Puluhan foto jurnalistik dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) pada Jumat malam (20/1). Pameran yang disertai launching buku fotografi jurnalistik Kilas Balik 2011 ini dihelat oleh GFJA, bekerja sama dengan Divisi Mandiri Pemberitaan Foto Antara dari 20 Januari hingga 20 Februari 2012.
Hermanus Prihatna, kepala divisi mandiri pemberitaan foto Antara menilai penting keberadaan sebuah fotografi jurnalistik. Meski awalnya hanya menjadi pelengkap dan ilustrasi bagi berita, namun dengan proses pengambilan foto yang mewajibkan pewarta untuk terjun langsung di lokasi agar memperoleh atmosfer kejadian pada momentumnya, foto jurmnalistik menjadi begitu akurat dan bernilai.
Kurator Oscar Motuloh berpendapat, dicupliknya foto jurnalistik dari beragam medan dan peristiwa penting di seluruh tanah air, hakikat dan koleksi kejadian dalam sejumlah kriteria fotografi jurnalistik tersebut diharapkan dapat menjadi cermin bagi kelangsungan atas kondisi republik ini, seraya mencelikkan buta hati para pengelola negeri kita tercinta
Emi Fitri, penikmat pameran dari Jakarta Globe tampak hanyut dalam salah satu foto yang ramai dirubungi pengunjung. Di hadapan foto yang menampilkan 'penggojlokan' anak-anak punk, ia merasakan keterkejutan akan tingkah aparat yang menggojlok anak-anak punk tersebut. "Apa salahnya mereka memilih cara hidup, cara berpakaian, dan menjadi seperti itu. Tapi mereka malah diperlakukan seperti kriminal. Di foto ini tertangkap kemarahan mereka diperlakukan seperti itu oleh aparat," komentarnya. (Ulan)














