Didik Setyawan, Jadi Guru yang Bisa Motret

E-mail Print

{jcomments on}Bagi Didik Setyawan memotret adalah hobi. Dan menjadi guru adalah profesinya kelak.

Nggak mudah sukses dengan hobi. Tentunya, butuh proses yang panjang. Yang penting, sekarang bikin karya (foto, red) dulu sebanyak- banyaknya. Kalau sudah punya banyak karya dan bagus, baru di share ke seluruh dunia,”(23/9) ujar Didik Setyawan, Ketua UKM KMF Kalacitra.

Inspirasi memotret ia dapatkan ketika melakukan perjalanan ke puncak. Saat melihat segerombolan orang- orang memegang kamera dan mengabadikan pemandangan di sekitarnya. Sejak saat itulah, ia memutuskan untuk menginjakan kaki ke Kalacitra.

Objek foto yang kerap ia ambil berupa manusia, human interest. Alasannya cukup simple, “Kita kan manusia, ya foto aja manusia,” ucapnya sambil nyengir. Karyanya yang terbaru adalah foto-foto Suku Tengger di Bromo.

Walau demikian, sebelum memasuki dunia fotografi di Kalacitra, ia sempat menjajaki UKM Teater. Namun, tak ia lanjutkan karena saat itu kesehatan fisiknya tidak mendukung kegiatan teater. “Di Kalacitra kan nyantai, cuma motret aja,” celetuknya dengan senyum.

Menurutnya, memotret mampu menghilangkan kejenuhan selepas kuliah. Berbagai aktifitas belajar dalam kelas, tugas kuliah, dan lain sebagainya dinetralkan dengan memotret.

Didik melihat, rutinitasnya di UKM Kalacitra tidak menganggu kuliahnya. Terbukti Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diraihnya pun cukup memuaskan.

Mencuatnya keinginan ia menjadi guru pun, bukanlah tanpa alasan. Melainkan mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebagai amal ibadah. “Nggak ngincer jadi kaya dengan itu (guru, red). Tapi dengan usaha yang lain, seperti dengan wirausaha maupun fotografer,” tutur laki-laki yang rencananya wisuda di bulan Januari 2012 ini.

Laki-laki berperawakan tinggi ini mengaku, ingin tetap konsen pada jurusan pilihannya. “Kalau ada duit sih, pengen ngelanjutin S2 di bidang yang sama, Manajemen Pendidikan,” ujarnya.

Didik Setyawan, Jadi Guru yang Bisa Motret