Faris, MC, dan Musik

E-mail Print

 

{jcomments on}“Karena gue suka musik, jadi waktu SMA itu gue punya band, dan satu band itu personilnya ganteng semua kaya anak boyband. Setiap kita jalan, rambut kita berurai-urai gitu, (teman-teman sekolah, red) pada ngeliatin,” canda Faris Bimantara, Ketua UKM RIAK, di sela-sela kesibukannya mengetik pengumuman untuk remaja masjid sekitar rumahnya.


Ya, organisatoris yang kini menjalani semester 9 di jurusan Hubungan Internasional UIN Jakarta ini tak hanya berusaha aktif di dunia musik, namun juga di bidang pewaraan dan organisasi di lingkungan rumahnya. Faris, begitu ia disapa, memang menyenangi dunia Master of Ceremony (MC). “Gue belajarnya otodidak. Sebenarnya orangtua ngebebasin gue mau belajar apa, dan gue sempat mau didaftarin les, tapi gue pengen terjun langsung ke lapangan,” terangnya beralasan.

Meski tidak belajar dalam koridor formal, prestasi lelaki ini dalam hobinya sebagai pewara cukup diperhitungkan. Sebut saja acara pernikahan, sunatan, dan yang baru-baru ini dibawakannya, acara wisuda di Auditorium UIN Jakarta. Mengenai proses terpilihnya ia menjadi satu dari empat MC di acara wisuda, Faris mengisahkan kejadian saat ia mengikuti audisi pemilihan MC wisuda.

Kala itu, ia tampil dengan pakaian casual dan lengkap dengan rambut ikalnya yang gondrong, begitu kontras dengan para pesaingnya yang tampil dengan style formal. “Ketika gue ditanya mau ngebawain acara apa, gue bilang mau bawain (simulasi, red) yang informal, acara ulang tahun RIAK. Dan ketika gue selesai tampil, semua juri tepuk tangan, padahal yang lain tampil formal semua, dan 3 dari 5 pewara yang masuk tahap selanjutnya untuk diseleksi, udah cukup dikenal di kalangan rektorat,” cengirnya sambil mengenang.

Bagi seorang Faris, kemampuan bicara itu mahal. Ia bercerita, dulu saat menjadi asisten di masjid Al Azzam, jamaah yang hadir mencapai 1000 orang. Begitu pun saat acara wisuda yang lalu. “Bisa gemetaran itu kalau nggak biasa,” celetuknya.

Meski ia beranggapan banyak yang melihatnya sebagai sosok yang aneh, senang berbicara, ia sadar ada saatnya ketika ia lebih baik tidak berbicara. “Tapi ketika gue disodori mic, gue harus ngomong sesuai dengan pengetahuan gueGue berusaha jadi MC yang edukatif, dengan bocoran-bocoran yang berilmu,” ujarnya.

Selain itu, di samping kegemarannya mewara, ia tetap memegang komitmennya di RIAK. Baginya, ketika seseorang masuk ke suatu organisasi, maka ia memiliki tanggung jawab sampai selesai. Menurut Faris, yang terpenting adalah menjalankan semuanya dengan ikhlas, loyal, dan total.

Di RIAK, ia pun belajar mengerti sifat seseorang, mendengar, disiplin, main musik, event organizing, serta menemukan keluarga baru. “Gue masi ingat waktu mereka bela-belain jenguk waktu gue sakit cukup parah selama 3 bulan,” tutupnya tersenyum.

 

Faris, MC, dan Musik