LAPSUS

Diskusi Buku “Membunuh Indonesia” Diteror oleh Dinas Kesehatan Bogor

E-mail Print

Bogor--Setelah heboh pembubaran diskusi buku Irshad Manji di Jakarta dan Yogya beberapa hari lalu, kali ini kasus serupa terjadi di Bogor. Jumat (11/05), BEM Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor menyelenggarakan diskusi buku Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek karya Abhisam DM dkk. Namun terjadi teror pada pelaksanaannya.

 

Bedah buku ini menghadirkan pembicara praktisi hukum Sri Hartini, SH, MH dan Koordinator Komunitas Kretek Wilayah Jakarta-Bogor Jibal Windiaz. Sebenarnya fase persiapan acara berlangsung baik-baik saja. Pihak rektorat pun sudah memberikan izin pada acara tersebut, bahkan acara boleh dilaksanakan di ruang rapat rektorat. Namun pihak Dinas Kesehatan Bogor datang sebelum acara, lalu memanggil Ketua BEM UIKA Ahmad Hidayat. Setelah mencecar dengan beberapa pertanyaan, utusan Dinas Kesehatan menanyakan izin acara tersebut.

“Seharusnya acara begini meminta izin dulu ke Dinas Kesehatan!” demikian kalimat yang meluncur dari utusan Dinkes Bogor, sebagaimana ditirukan Ahmad Hidayat. Lebih jauh, sang utusan Dinkes menyatakan bahwa diskusi buku Membunuh Indonesia di UNIKA adalah ilegal. Alasannya, acara yang sama di Universitas Pakuan dan Universitas Juanda juga tidak mendapatkan izin dari rektorat.

“Ini sangat tidak masuk akal,” kata Ahmad Hidayat kepada wartawan. “Apa urusannya izin Dinas Kesehatan dengan aktivitas intelektual di kampus?”

Setelah pembicaraan yang panas, utusan Dinkes meninggalkan lokasi. Namun beberapa saat kemudian ia mengirimkan pesan pendek ke Ahmad Hidayat, menegaskan bahwa acara serupa tidak diizinkan oleh Rektor Universitas Pakuan dan Universitas Juanda.

Acara tetap berjalan. Sayang, beberapa saat kemudian arus listrik di ruang diskusi padam. Anehnya, ruang-ruang lain tetap menyala. Upaya menyalakan lagi arus listrik untuk ruang tersebut menemui kegagalan. “Jujur saja ini sangat mencurigakan,” Jibal Windiaz, salah satu pembicara, berkomentar. Acara tetap berlanjut meski tanpa aliran listrik, sehingga pengeras suara pun tidak berfungsi.

Sebagaimana diketahui, Kota Bogor menjadi salah satu daerah yang gencar menjalankan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok. Sementara, buku Membunuh Indonesia adalah hasil riset mengejutkan tentang kretek, rokok cengkeh khas Indonesia. Di buku itu juga dibeberkan data-data tentang peran sangat signifikan industri kretek bagi kemandirian perekonomian nasional. Juga bahwa gempuran kampanye antirokok di Indonesia tak lebih dari aksi kepentingan dagang industri farmasi asing yang main mata dengan pabrik rokok putih.

“Rupanya Dinas Kesehatan Bogor mengira ini buku ajakan untuk merokok,” sambil tertawa, Abhisam DM berkomentar via telepon. Salah satu penulis Membunuh Indonesia yang juga Koordinator Nasional Komunitas Kretek itu menutup dengan pernyataan keras, “Sikap apriori Dinkes Bogor itu bukan cuma memalukan, tapi juga sangat berbahaya bagi kultur intelektual kampus.” [Zimbal, koresponden]



 

 

Last Updated on Tuesday, 15 May 2012 11:36

Kado Kemanusiaan dari MMLWF

E-mail Print

Ada pemandangan berbeda di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (20/1). Gedung tiga lantai yang biasa menampung wisudawan dan wisudawati tiap tahunnya ITU, siang tadi dipenuhi orang-orang, di antara mereka ada pula yang menggunakan kursi roda.

Last Updated on Monday, 23 January 2012 02:34
Read more...

Didik Setyawan, Jadi Guru yang Bisa Motret

E-mail Print

{jcomments on}Bagi Didik Setyawan memotret adalah hobi. Dan menjadi guru adalah profesinya kelak.

Nggak mudah sukses dengan hobi. Tentunya, butuh proses yang panjang. Yang penting, sekarang bikin karya (foto, red) dulu sebanyak- banyaknya. Kalau sudah punya banyak karya dan bagus, baru di share ke seluruh dunia,”(23/9) ujar Didik Setyawan, Ketua UKM KMF Kalacitra.


Read more...

Faris, MC, dan Musik

E-mail Print

 

{jcomments on}“Karena gue suka musik, jadi waktu SMA itu gue punya band, dan satu band itu personilnya ganteng semua kaya anak boyband. Setiap kita jalan, rambut kita berurai-urai gitu, (teman-teman sekolah, red) pada ngeliatin,” canda Faris Bimantara, Ketua UKM RIAK, di sela-sela kesibukannya mengetik pengumuman untuk remaja masjid sekitar rumahnya.


Ya, organisatoris yang kini menjalani semester 9 di jurusan Hubungan Internasional UIN Jakarta ini tak hanya berusaha aktif di dunia musik, namun juga di bidang pewaraan dan organisasi di lingkungan rumahnya. Faris, begitu ia disapa, memang menyenangi dunia Master of Ceremony (MC). “Gue belajarnya otodidak. Sebenarnya orangtua ngebebasin gue mau belajar apa, dan gue sempat mau didaftarin les, tapi gue pengen terjun langsung ke lapangan,” terangnya beralasan.

Meski tidak belajar dalam koridor formal, prestasi lelaki ini dalam hobinya sebagai pewara cukup diperhitungkan. Sebut saja acara pernikahan, sunatan, dan yang baru-baru ini dibawakannya, acara wisuda di Auditorium UIN Jakarta. Mengenai proses terpilihnya ia menjadi satu dari empat MC di acara wisuda, Faris mengisahkan kejadian saat ia mengikuti audisi pemilihan MC wisuda.

Kala itu, ia tampil dengan pakaian casual dan lengkap dengan rambut ikalnya yang gondrong, begitu kontras dengan para pesaingnya yang tampil dengan style formal. “Ketika gue ditanya mau ngebawain acara apa, gue bilang mau bawain (simulasi, red) yang informal, acara ulang tahun RIAK. Dan ketika gue selesai tampil, semua juri tepuk tangan, padahal yang lain tampil formal semua, dan 3 dari 5 pewara yang masuk tahap selanjutnya untuk diseleksi, udah cukup dikenal di kalangan rektorat,” cengirnya sambil mengenang.

Bagi seorang Faris, kemampuan bicara itu mahal. Ia bercerita, dulu saat menjadi asisten di masjid Al Azzam, jamaah yang hadir mencapai 1000 orang. Begitu pun saat acara wisuda yang lalu. “Bisa gemetaran itu kalau nggak biasa,” celetuknya.

Meski ia beranggapan banyak yang melihatnya sebagai sosok yang aneh, senang berbicara, ia sadar ada saatnya ketika ia lebih baik tidak berbicara. “Tapi ketika gue disodori mic, gue harus ngomong sesuai dengan pengetahuan gueGue berusaha jadi MC yang edukatif, dengan bocoran-bocoran yang berilmu,” ujarnya.

Selain itu, di samping kegemarannya mewara, ia tetap memegang komitmennya di RIAK. Baginya, ketika seseorang masuk ke suatu organisasi, maka ia memiliki tanggung jawab sampai selesai. Menurut Faris, yang terpenting adalah menjalankan semuanya dengan ikhlas, loyal, dan total.

Di RIAK, ia pun belajar mengerti sifat seseorang, mendengar, disiplin, main musik, event organizing, serta menemukan keluarga baru. “Gue masi ingat waktu mereka bela-belain jenguk waktu gue sakit cukup parah selama 3 bulan,” tutupnya tersenyum.

 

Last Updated on Tuesday, 14 February 2012 19:23

Ekonomi kerakyatan Solusi Membangun Perekonomian Indonesia

E-mail Print

FEB, INSTITUT- “Negara Indonesia merdeka selama 66 tahun tapi selama itu kita tidak membangun apa-apa, kecuali membangun kemiskinan. Jika kita ingin berubah maka sistemnya yang harus dirubah, kita tidak lagi menyerahkan sistem pada pasar, sebagai alternatifnya adalah ekonomi kerakyatan,” ucap Sugiono Bendahara umum HKTI dalam kuliah umum Membangun Ekonomi Bangsa Berbasis Ekonomi Kerakyatan di Teater II Fakultas Ekonomi Bisnis UIN Jakarta, Rabu (25/10).


Rilis salah satu lembaga internasional, Indonesia mempunyai 14 orang yang termasuk kedalam 100 orang terkaya di dunia, kebanyakan mereka adalah pengusaha rokok, sawit, dan tambang. Dalam rilis lain pula dilaporkan Indonesia masuk dalam runtutan ke 14 negara yang menyokong perekonomian global. Sesuatu hal yang mencengangkan, akan tetapi hal tersebut hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Jumlah penduduk miskin Indonesia tercatat sebanyak 31,02 juta jiwa, standar ini sesuai standar BPS yang mempatok pendapatan perkapita kepala keluarga sebesar $ 0,5/hari atau Rp. 211.726/ bulan, dan akan bertambah banyak bahkan hampir setengah penduduk indonesia dikatakan miskin jika standar tersebut disamakan dengan standar Bank Dunia sebesar $ 2, “Logikanya jika rata-rata harga beras Rp. 7000/Kg dalam sebulan akan menghabiskan Rp. 504.000, anehnya pemerintah mematok kemiskinan dengan pendapatan RP. 211.726/bulan berarti jika seorang makan satu kali dalam sehari itu belum dikatakan miskin,” tegas Sugiono dengan mimik muka bertanya.

Menurut Sugiono, ekonomi kerakyatan lahir dari proses ekonomi dan tradisi bangsa Indonesia, sistem ini juga sesuai dengan amanah konstitusi  dalam UUD 1945 pasal 33 yang menyebutkan perekonomian disusun bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, “Warga negara berhak atas pekerjaan yang layak, ini ada dalam ekonomi kerakyatan yang sepenuhnya berpihak terhadap rakyat.” Ujar lulusan Amerika Serikat yang juga pengusaha.

Kegagalan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis dalam menjawab tatangan global menunjukan ekonomi kerakyatan sebagai alternatif yang tepat, sejauh ini sistem tersebut telah survive di negara kita, “Sejak dulu orang tua kita sudah lama mengenal sistem ini dengan memilih jalan tengah diantara sistem yang ada, karena sistem ini sesuai dengan budaya rakyat indonesia,” tutur Sugiono.

 

Last Updated on Wednesday, 18 January 2012 06:20

Page 1 of 3

  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End