
Jangan kau peluk kami,
jika pelukanmu membatasi kata-kata kami
Jangan kau peluk kami,
jika pelukanmu menjelma penjara pandangan kami
Jangan kau peluk kami,
jika pelukanmu borgol pikiran kami
Jangan kau peluk kami,
jika pelukanmu memasung langkah kami
Jangan kau peluk kami,
jika pelukanmu pagar imajinasi kami
Jangan kau peluk kami,
jika pelukanmu momok masa depan kami
Itulah penggalan puisi karya salah satu penyair Siklusitu, Elex SW. Siklusitu, sebuah wadah bagi para masyarakat seni Ciputat untuk mengekspresikan kreativitasnya. Di saung yang berdiri tak jauh dari kediaman Rektor, mereka bergulat sampai malam dengan puisi, cerpen, tari, musik, dan teater.
Di tahun 1998, Siklusitu merupakan tempat melepas penat para anak Teater Tonggak. Di sana mereka memvisualisasikan berbagai masalah kehidupan secara spontan dengan bernyanyi, berpuisi, bermonolog, mendongeng, atau sekedar berteriak-teriak. Secara naluriah kegiatan ini berjalan dari hari ke hari dengan semangat mereka dan mendapat sambutan hangat para teman.
Dari situ mereka sepakat menamai aktivitasnya dengan Siklusitu, karena kegiatan itu biasa mereka lakukan di pinggiran Situ dan rutin digelar tiap malamnya, menjadi siklus bagi mereka.
Hari ke hari semakin banyak yang berdatangan, menyaksikan aksi panggung mereka. Sebutlah Teater IKJ, Teater Syahid, dan para penikmat seni dari Bandung dan Jogja pun turut hadir. Sayang, pada tahun 2000 kegiatan mereka lambat laun berkurang seiring vakumnya Teater Tonggak. Di tahun 2004 lah Siklusitu kembali hidup, diusung anak-anak Tonggak yang mendirikan Sanggar Altar.
Di masa itulah, mereka membangun lagi panggung apresiasi. Bergabunglah Zaky Mubarok, yang akrab mereka sapa dengan Kojek, lalu diiringi dengan hadirnya Hendri Yetus Siswono, Elex SW dan Kingking. Pada era itu, mereka kerap bermain di Aula Insan Cita. Karena bertempat di aula dan banyak anggotanya berasal dari Teater Altar, penampilan yang dibawakan sering berupa teater. Tahun 2005 warga Siklusitu pindah ke Pujasera dan di tahun 2006, penampilan yang mereka bawakan mulai beralih ke sastra. Setelah pindah ke saung El Na’ma, penampilan mereka lebih diisi puisi, cerpen, dan musik.
Mereka bercerita, malam-malam pertemuan mereka diisi dengan penampilan dari kawan-kawan yang hadir. Dahulu sistemnya main tuduh, namun kini penampillah yang mengajukan dirinya. Setelah itu, dibedah oleh pembahas yang ditunjuk, lalu dikomentari teman-teman lainnya. “Sama dengan seminar, bedanya ini nonformal. Di sini kita sama-sama belajar, dapat masukan, tahu mana bagus, mana yang jelek. Itu mungkin yang nggak bisa didapat di kampus,” terang Hendri.
Di masa-masa itu, mereka mengadakan acara Kolak Sastra (2006), disusul Osmosa Situ Kuru (2008) dan Pasar-pasaran: Revitalisasi Pasar Tradisonal(2008), bekerjasama dengan BEMF Adab. Mereka pun sempat menerbitkan dua buku, Jejak Siklus Itu 1 dan disusul Jejak Siklus Itu 2 pada 2008. Buku itu tak sekedar berisi kumpulan puisi, namun juga komentar para teman. Album musikalisasi puisi pun pernah mereka rilis.
Sayang, Siklusitu kembali vakum pada tahun 2009. “Dulu Hendri yg mengurus, karena sibuk di bengkel, nggak langsung ada yang mengambil alih,” jelas Rahmawati Basri, warga Kampung Siklus yang aktif di Teater El Na’ma. Di tahun 2010 mereka kembali aktif dengan para anggotanya yang hingga kini loyal berkarya. Tanpa label ketua atau anggota, mereka merasa memiliki tanggungjawab yang sama.
Bagi Basri, kini mereka berbenah diri, seperti mengatur penampil sebelum acara dimulai, juga memaksimalkan publikasi. Hendri mengatakan, Siklusitu itu memang tidak terlihat,namun tetap ada. “Yang tahu Siklusitu umumnya anak-anak yang bergelut di kesenian, lalu menyebar ke teman-teman, jadi orang umum tidak begitu tahu,” ujar Hendri.{jcomments on}


















