Teater Hilang: Budaya tidak akan Hilang

E-mail Print

Dewasa ini, bangsa Indonesia tengah mengalami berbagai problema yang dari waktu ke waktu silih berganti, entah itu disadari atau tidak namun demikianlah yang terjadi. Hal itu berdampak pada berbagai sendi kehidupan sosial bangsa multikural ini, sebagai contoh kecilnya adalah pada pola pikir para generasi penerus bangsa.

Muda-mudi masa kini memiliki kecenderungan pada hal-hal yang instan, popular atau yang lebih sering disebut “gaul” dan tidak jarang pula lebih suka pada hal-hal yang mereka anggap modern. Hal itu berefek pada keengganan mereka pada budaya lokal yang berciri tradisional, seperti seni. Setidak-nya persoalan di atas sangat di-sayangkan oleh sebagian kelompok masyarakat kita. Salah satu di antaranya adalah Teater Hilang, sebuah komunitas kecil yang ada di UIN Jakarta.
INSTITUT berkesempatan untuk menyelami lebih dalam seluk beluk Teater Hilang ketika berbincang dengan Harsin, yang kebetulan pendiri komunitas tersebut pada selasa (5/4) lalu. Ia menuturkan mengenai pendapatnya terkait keadaan sosial bangsa ini yang terlihat sudah mulai melupakan budayanya sendiri. Hal inilah yang mendorong dirinya untuk kembali memunculkan budaya yang mulai hilang lewat teater. “Di mana saya berpijak, itu pengen diriin teater,” ujarnya.
Pada mulanya, Harsin tampil hanya perseorangan. Seperti kala menampilkan drama kolosal “Ganyang Terorisme” pada sebuah acara di Senayan, Gerakan Pemuda Anti Narkoba dan Narkotika (GEMPETA) pada pertengahan tahun lalu. Ketika itu, Teater Hilang belum terbentuk. Setelah itu, barulah ia mendirikan Teater Hilang. “Itupun dapat masukan dari teman-teman Tim Ilustrasi (TI) dari Ponorogo, Jawa Timur,” imbuh pria yang berasal dari Buton, Sulawesi.
Ia mengaku sangat dekat dengan kawan-kawan TI, bahkan Teater Hilang sendiri masih dalam asal yang sama. Baik Teater Hilang maupun TI, sama-sama titisan dari Teater Buton. Sebuah teater yang ada di Buton. Harsin sendiri mengaku pernah terlibat dalam Teater Buton.
Ketika ditanya mengenai penamaan ‘Hilang’ pada komuntas yang ia dirikan, Harsin menuturkan bahwa sebenarnya itu merupakan kebalikan dari kata hilang, yang berarti tidak hilang. Dalam artian, seni khususnya kebudayaan yang dimiliki bangsa ini tidak akan hilang. “Sebenarnya Indonesia bisa mempertahankan dan membangun lagi budaya yang hilang, meskipun itu seringkali dianggap kolot oleh anak muda sekarang ini,” katanya.
Adapun dalam setiap penampilannya, Teater Hilang lebih menekankan penyajian seni teaternya pada gerak mimik atau yang juga dikenal sebagai Pantomim. Sementara itu, tema yang diangkat pun seputar fenomena kehidupan sosial yang ada. Seperti teater pada umumnya, Teater Hilang pun tak lupa memasukkan kritikan-kritikan yang tetap berkaitan dengan fenomena yang ada.

{jcomments on}

Teater Hilang: Budaya tidak akan Hilang