Seni Membangun Karakter Bangsa

E-mail Print

“Membangun karakter bangsa tidak harus melalui media politik tapi juga bisa melalui seni”

Cobalah melintasi kolong jembatan pasar Ciputat. Terdapat beberapa lukisan yang dipajang ke arah jalan. Di dekatnya terdapat kain putih bertuliskan Demo Melukis G Masken. Di sampingnya terdapat lukisan siluet seorang pelukis dan tulisan, “Seni Membangun Karakter Bangsa”.

Di kolong jembatan itulah didirikan galeri kecil yang cuma ada satu-satunya di Ciputat. Bambang Tridoyo, seorang seniman lukis yang bergulat dengan kuas dan kanvasnya.

Hampir dua tahun Bambang dan kolong seninya melakukan aktifitas melukis di kolong jembatan. Sebelumnya, ia aktif berprofesi di Ancol sejak tahun 1975 bersama ayahnya.

“Saya merasakan Ancol sudah tidak kondusif. Sedangkan kami butuh kreatifitas. Mungkin di sini saya akan mengorganisasi teman-teman untuk kreatif dalam hal seni rupa. Banyak pelukis belum berani tampil,” tuturnya.

Walaupun berangkat sebagai pelukis di Ancol yang hijrah ke Tangerang Selatan (Tangsel), dirinya mengakui tetap mengedepankan profesionalitas. Sehingga walau berada di kolong jembatan, ia tidak hanya bicara masalah kuantitas tapi juga kualitas.


Ketertarikan Bambang pada dunia seni lukisan dirasakan sejak beranjak remaja. Ia melatih rasa cintanya pada seni lukis secara otodidak. Ia mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang otodidak.

Mengawali karirnya di Tangsel, ia melihat belum ada hal yang berhubungan dengan seni di wilayah tersebut. Sehingga ia mengumpulkan beberapa teman-teman pelukis Tangsel untuk berkreatifitas. Ada sekitar 12 orang yang bergabung, hanya saja yang tetap eksis dan standby ada 2 orang.

Menurutnya, di Tangsel masih ada sisi-sisi yang memprihatinkan seperti anak-anak jalanan dan sampah. Berpegang pada rasa kepeduliannya, ia pernah mengambil tema anak marjinal jalanan untuk dijadikan inspirasi lukisannya.

Adapun nama komunitasnya, G Masken, diambil dari nama kedua anaknya, Dimas dan Niken. Lalu G merupakan singkatan galeri. Sedangkan jargon membangun karakter bangsa mempunyai makna filosofis tersendiri bagi dirinya.

G Masken sendiri ternyata memiliki ikon yaitu tasbih. Tasbih merupakan akronim dari tertib, aman, sehat, bersih, indah, dan hayati. Hayati memiliki makna tersirat. Maksudnya segala tindakan dan perbuatan selalu disertai dengan hati.

Karakter lukisannya terfokus pada aliran naturalis dan realis. Sehingga objek karyanya berbentuk potret dan bunga. Media lukis yang digunakannya beragam mulai dari conte, pastel, dan cat minyak. Sehingga kisaran harga yang dipatoknya relatif berdasarkan media yang digunakan. “Harga-harga di sini sudah dikurang separuh daripada harga Ancol,” ucapnya.

Dalam hajat demokrasi warga Tangsel, salah satu calon walikota menjanjikannya sebuah tempat untuk dirinya berkreatifitas. Ia dengan gaya seorang seniman yang santai menyatakan berterima kasih tanpa mengurangi rasa hormat. Namun, ternyata ia akan tetap memilih untuk berkreatifitas di kolong jembatan tersebut.

“Karena jika di luar, saya bisa berinteraksi dengan masyarakat. Jika saya diberikan tempat yang sejuk, otomatis saya akan bekerja di dalam dan saya tidak akan tahu apa yang terjadi di luar,” ujarnya samar-samar beradu dengan suara kendaraan.

Ketika disinggung kehidupannya sebagai seniman jalanan, ia mengaku hal itu tidak berjalan stabil. Ia berpandangan jika dikatakan orang harus bersabar, orangnya yang terbatas, sementara kesabarannya tidak terbatas.

“Bagi kami seniman, bekerja itu lebih banyak dengan rasa bukan dengan rasio. Makanya sekarang ini orang kadarnya hanya sebatas pintar. Akhirnya minterin orang. Tapi kalau orang cerdas beda. Kami akan berusaha mencetak generasi bangsa yang cerdas, tidak hanya pintar,” jelasnya.

Berprofesi selama dua tahun di kolong jembatan disyukurinya karena tidak pernah ada masalah dengan pihak keamanan ataupun preman. Justru ia semakin melebarkan sayap seninya dengan menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan.

“Terutama dengan yang bergerak di bidang peduli. Yang jelas relevan dengan kegiatan kami. Siapa saja tanpa dipungut biaya. Kendalanya jika kami berjalan tanpa biaya bisa dikatakan modal dengkul. Alasannya kami butuh sponsorship. Karena baik kami maupun teman-teman dari UIN mau saja bekerja tanpa ada imbalan karena kami memang bergerak di bidang sosial,” jelas laki-laki kelahiran tahun 1957 ini.

Rencananya G Masken akan mengadakan lomba melukis tingkat anak-anak. Renacana itu digarap bersama salah satu lembaga kemahasiswaan UIN dan lembaga swadaya masyarakat.

Ia menaruh harapan pada G Masken. Harapannya tidak muluk-muluk, ia ingin memiliki sifat-sifat air. Menurutnya, hidup tidak perlu ngoyo. Ia memiliki keinginan untuk melukis kolong jembatan. Tentunya hal tersebut sesuai dengan visi dan misinya yaitu kepedulian. Namun, itu akan dilakukan jika diizinkan oleh pemerintah daerah Tangsel{jcomments on}

 

Seni Membangun Karakter Bangsa