Dunia ini sudah semakin mencandu drama, bahkan kebohongan pun diharapkan sebagai kebenaran. Makin banyaknya manusia yang pandai bersandiwara membuat batas antara kebenaran dan kejahatan semakin saru.
Dalam pementasannya di Fakultas Perikanan IPB (22/01), Teater Gading menghadirkan lakon bertajuk “Rama VS Rahwana” yang disadur dari kisah pewayangan Ramayana yang selama ini populer sebagai kisah antara kebenaran dan kejahatan.
Namun dalam cerita kali ini, Teater Gading mencoba menggambarkan hal yang sama sekali berbeda dari pewayangan aslinya. Visualisasinya bahwa dunia manusia semakin renta, kebaikan dan kejahatan yang tipis bedanya membuat resah dalang dan para wayangnya.
Cerita bermula dari diculiknya Dewi Sinta, istri dari Rama. Sinta yang seharusnya berwatak anggun dan sopan disulap menjadi seorang wanita yang genit dan sedikit nakal. Wataknya yang demikian membuat Rahwana semakin bernafsu untuk menjadikannya istri yang kesekian puluh.
Lalu tidak seperti lakon aslinya dimana Rahwana yang jahat harus bertarung dengan Jatayu sebelum membawa Sinta ke Negara Alengka, disini Jatayu dikisahkan absen tidak hadir karena takut terbang di wilayah manusia, karena khawatir dengan pemburuan hewan yang marak terjadi di bumi.
Sampai pada kisah Rahwana yang gagal merayu Sinta dan akhirnya memutuskan untuk kembali berwatak jahat hingga Rama yang malah pingsan ketika mengetahui istrinya diculik, lalu si monyet sakti yang emoh dipanggil Hanoman dan memilih disebut Sun Go Kong.
Lakon pada wayang-wayang diatas sarat akan humor satire, apalagi ketika banyak lakon yang berprilaku tidak sesuai dengan cerita, kolusi diangkat untuk menyesuaikan prilaku wayang dengan alur cerita yang ada.
Konflik seru pun terjadi antara dalang dan para wayangnya yang ngotot beranggapan bahwa amarah harus diekspresikan, konflik harus dituntaskan, dan pertumpahan darah memang harus ditumpahkan.
Sedang sang dalang juga ngoyo berpendapat bahwa amarah memang harus diekspresikan, konflik yang ada harus dituntaskan, namun pertumpahan darah tidak musti terjadi. “Kita mau menyampaikan kepada penonton bahwa semua masalah itu bisa diselesaikan secara baik-baik,” ujar Yegi Sandi yang berperan sebagai Sukrasana.
Yegi menceritakan bahwa persiapan pementasan ini dilakukan selama kurang lebih empat bulan dengan kerjasama dari berbagai pihak, salah satunya adalah Teater Syahid dan Teater Cahaya. Menurut Diding Hasanudin, sutradara “Rama VS Rahwana” lakon yang sama selanjutnya akan di pentaskan tanggal 18-19 Februari di Gedung Kemuning Bogor.
“Yang tanggal 18-19 itu pas ulang tahun saya. Siapa tahu ada yang mau bawa kado dan jangan lupa kami juga akan pentas di Teater Kecil tanggal 4-5 Februari. Tapi yang di sana tiketnya 40 ribu bukan 10 ribu,” kelakarnya menutup pementasan. (Aditya Putri)














