
HB. Jassin
Matahari bangkit dari sanubariku. Menyentuh permukaan samodra raya. Matahari keluar dari mulutku, menjadi pelangi di cakrawala.
Itulah bait awal sajak almarhum WS Rendra yang di bawakan Al Hafiz Kurniawan salah satu penggerak gerakan koin sastra di UIN untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Berangkat dari keprihatinan mempertahankan kebudayaan dan sejarah bangsa, gerakan ini telah berjalan selama hampir dua minggu.
Di Uin sendiri gerakan ini dimulai pada 21 maret lalu. Bentuk kegiatannya adalah mengumpulkan kepingan-kepingan uang sebagai simbolisasi kepedulian terhadap aset bangsa bernama PDS HB Jassin. Aksi ini diwarnai dengan berbagai pembacaan puisi Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri didepan gedung Fakultas Tarbiyah (31/3).
teriknya matahari siang itu, Candra wahyudi, pria bertubuh gempal yang ikut meramaikan penggalangan dana itu juga membacakan sajak Paman Doblang karya WS Rendra. Candra menuturkan, aksi ini merupakan bentuk ekspresi kegalauan kita terhadap PDS HB Jassin.
“Ayo siapa saja boleh ikut serta, dari baca puisi, teatrikal, atau bernyanyi juga bisa. Aksi solidaritas ini siapapun boleh ikut. Mempertahankan PDS berarti mempertahankan bagian dari sejarah kebudayaan bangsa,” teriaknya dalam orasinya.
Menurut Hafiz yang juga penikmat karya Rendra, saat ini uang yang terkumpul kurang lebih sudah mencapai 1 juta dari aksi kemarin. Nantinya, uang itu akan dikumpulkan dalam acara puncak gerakan koin sastra pada 13 april mendatang di Bentara Budaya Jakarta. “Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata,” tuturnya mengutip bait akhir dari sajak Paman Doblang. (Ibnu)














