Analisis

Menguak Fakta di balik Tragedi 65’

E-mail Print

Aula SC, INSTITUT- Dalam diskusi dan bedah buku yang berjudul Memecah Pembisuan: Tuturan Penyintas Tragedi 65’-66’, mencoba menguak fakta di balik tragedi 65’. Putu Oka Sukanta, editor buku, menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu secara jernih melihat perjalanan sejarah bangsanya.
“Khususnya dalam tragedi kemanusiaan 65’-66, Orde Baru (Orba) telah mengindoktrinasikan sejarah yang penuh fitnah, diskrimininatif, fiktif, melalui pelbagai media formal dan informal, yang sampai sekarang belum pernah diklarifikasi oleh pemerintah. Namun, dengan hadirnya buku ini, diharapkan membuka mata rakyat Indonesia terhadap pembisuan yang dilakukan oleh rezim Soeharto itu,” (10/1) katanya.



Hal ini pun ditambahkan oleh Ramfalak Siregar, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Ciputat, sekaligus pembicara diskusi dan bedah buku , rakyat Indonesia “diam” atas kekejaman dan kejahatan 65’ karena politik memori kolektif yang sudah terlanjur digelindingkan oleh pemerintah Orde Baru dengan desain yang tertata.

Menurutnya, telah terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) pada tragedi itu. Pasalnya, orang-orang yang belum dibuktikan apakah seseorang berkecimpung di Partai Komunis Indonesia (PKI), disiksa dan dipenjara bertahun-tahun bahkan dihilangan nyawanya. Hingga sekarang, orang-orang tersebut masih menanggung beban tuduhan-tuduhan yang tak terbukti itu.

Selain Ramfalak, pembicara lain dalam diskusi dan bedah buku tersebut, Okki Tirtoadhisoerjo, Matabudaya dan Ahmad Makki, Intelektual Pergerkan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ciputat, turut mengutarakan ide-ide pemikirannya tentang tragedi 65’. Menurut Makki, sejarah memang perlu diluruskan.

Masih senada dengan Ramfalak dan Makki, Okki pun menuturkan bahwa telah terjadi tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh konflik perpolitikan masa Orba. “Irrasionalitas kekerasan yang termanifestasi dalam wujud konflik merupakan cermin kegagalan negara dan masyarakat dalam membangun kehidupan sosial,” kata Okki mengutip Gumilar Rusliwa Somantri.

Namun, Taufik Ismail, sastrawan tanah air yang ikut berpartisipasi dalam diskusi dan bedah buku ini mengatakan, perlu melihat sejarah dari prespektif yang lebih luas. “Jangan hanya melihat dari dua kurun waktu itu (65’-66’, red). Lihat, selama 74 tahun, PKI telah membantai 120 juta manusia di 87 negara. Karena memang PKI bertujuan merebut kekuasaan dengan jalan kekerasan,” paparnya.

Ia menambahkan, kejadian di tahun 65’ bukanlah merupakan sebuah tragedi. Lebih tepatnya, ia mengatakan bahwa kejadian itu adalah perebutan kekuasaan berdarah. “Jangan sampai, di IAIN ini (sekarang UIN, red) ada pengaruh-pengaruh negatif ke’merah’an yang datang dari luar yang berujung pada pemberontakan,” ujarnya.

Menanggapi hal itu, Putu menyatakan,”Adanya bedah buku ini bukan berarti membawa pengaruh negatif. Karena dampak dari tragedi itu masih ada hingga saat ini. dan itu adalah masalah bangsa. Saya konsisten membela hak mereka dan berharap, kelak tidak ada lagi tragedi yang sama,” tandasnya.{jcomments on}

 

Last Updated on Tuesday, 14 February 2012 19:04