Archive Pages Design$type=blogging

Menyorot Diskriminasi di Kalangan Jurnalis Perempuan



Diskriminasi yang dialami jurnalis perempuan disinyalir karena faktor budaya patriarki yang mengakar dalam newsroom.


Menurut riset Aliansi Jurnalis Independen (AJI) serta Pemantau Regulasi dan Regulator Media (PR2Media), masih banyak ditemukan diskriminasi gender pada jurnalis perempuan.  Dalam hal tugas peliputan, terdapat 29,6 persen jurnalis perempuan pernah mengalami diskriminasi. Seperti yang dialami oleh Redaktur Konde Nurul Azizah, ia mengaku pernah mengalami diskriminasi berbasis gender, dengan prasangka tentang gender dan dilanggarnya hak kesehatan reproduksi perempuan untuk mendapat jatah cuti haid.

Tak hanya itu, Nurul juga tak pernah mendapat pelatihan dan pembelajaran mengenai kesetaraan gender di  kalangan jurnalis. Menurutnya, permasalahan diskriminasi berbasis gender pada jurnalis perempuan masih sistemik. Nurul juga mengatakan, ruang media masih sangat kental dengan perbedaan antara maskulinitas dan feminis. “Selama kurang lebih empat tahun di media arus utama, saya tidak pernah mendapatkan pelatihan  keadilan gender di kalangan jurnalis,” kata Nurul, Rabu (15/6).

Dalam mengatasi diskriminasi tersebut, Nurul  mengaku telah melakukan audiensi dengan redaktur pelaksana untuk pemindahan meja kerja dan meminta hak yang seharusnya didapatkan. Meski membutuhkan waktu yang lama, hasil dari kerja kerasnya membuahkan hasil. “Sebelumnya di bagian bisnis, lalu setelah audiensi, saya dipindahkan ke rubrik liputan ranah perempuan/tradisional,” tambahnya. 

Tak hanya Nurul, diskriminasi juga dialami oleh Ajeng. Sebagai jurnalis foto, ia mengalami pelecehan secara verbal dan nonverbal di tempat kerja. Ajeng mengaku pernah mendapatkan hal tidak mengenakan saat bekerja, seperti dilecehkan, dirangkul, hingga dipegang bagian dada tanpa persetujuannya. Kala dirinya mencoba untuk melawan, konflik tak menyenangkan justru malah terjadi hingga akhir kegiatan. “Selain itu aku juga dilecehkan secara lisan oleh orang kantor dan sesama jurnalis,” ungkap Ajeng, Kamis (16/6).

Ajeng juga menambahkan, untuk saat ini semua jurnalis khususnya perempuan harus berani melaporkan tindakan diskriminasi yang terjadi. Lanjut Ajeng, banyak organisasi wartawan yang lebih terbuka dan bisa membantu proses ke pihak hukum. “Kantor mau melaporkan dan menindaklanjuti ke ranah hukum,” imbuh Ajeng.

Ketua Bidang Gender AJI Indonesia Nani Afrida menegaskan budaya patriarki menyebabkan dinamika kerja dalam newsroom terlalu maskulin. Hal tersebut disinyalir menjadi penyebab diskriminasi pada jurnalis perempuan. AJI sudah melakukan pelatihan dasar Hak Asasi Manusia (HAM) dan gender kepada para jurnalis, pelatihan dasar itu nantinya akan dijadikan prioritas. Selain itu, AJI juga sedang bekerja sama dengan Dewan Pers untuk pembuatan Standar Operating Procedure (SOP) penanganan kekerasan seksual di newsroom dan panduan ramah gender.

Tak hanya itu, lanjutnya, AJI mendesak lembaga dan pelaku yang  melakukan diskriminasi terhadap jurnalis. Namun, sampai saat ini AJI tidak menerima laporan secara spesifik diskriminasi apa yang dialami oleh jurnalis. Pelaporan terkait pelecehan seksual di tempat kerja menjadi laporan terbanyak yang masuk kepada AJI. “Laporan yang lebih banyak adalah kasus kekerasan seksual yang dialami jurnalis perempuan,” pungkas Nani, Jumat (24/6). 

Reporter: Ken Devina 

Editor: Hany Fatihah Ahmad 


COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism Edisi LXVI Edisi XLVI english edition humanitas Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah Majalah Institut newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel video wawancara
false
ltr
item
PERSMA INSTITUT - UIN JAKARTA: Menyorot Diskriminasi di Kalangan Jurnalis Perempuan
Menyorot Diskriminasi di Kalangan Jurnalis Perempuan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhROu2SwfwlTL9E1Vm-e2L9FUgSGAvN4pnd9YsyOYoWxh-cPyMkZ2Yg5tAzz42Fa2SZBGuiwI2e3jgBnC_U0IL6eU72TLlqd5FrNHt_VoSsXg0m0LmAk2ORTfUi6kIvWDicRunOW6KznMNlabUxzQVN65MehgBFYnumzKKTm50OerRB73CukzExQwmhUQ/s320/png_20220627_185714_0000.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhROu2SwfwlTL9E1Vm-e2L9FUgSGAvN4pnd9YsyOYoWxh-cPyMkZ2Yg5tAzz42Fa2SZBGuiwI2e3jgBnC_U0IL6eU72TLlqd5FrNHt_VoSsXg0m0LmAk2ORTfUi6kIvWDicRunOW6KznMNlabUxzQVN65MehgBFYnumzKKTm50OerRB73CukzExQwmhUQ/s72-c/png_20220627_185714_0000.png
PERSMA INSTITUT - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2022/06/menyorot-diskriminasi-di-kalangan.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2022/06/menyorot-diskriminasi-di-kalangan.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago