Archive Pages Design$type=blogging

Stigma Radikalisme Salah Sasaran

   
Kata radikalisme begitu menarik perhatian publik, khususnya di Indonesia. Di mana pemahaman mengenai radikalisme memunculkan stigma negatif di kalangan masyarakat.

Isu radikalisme hingga saat ini masih menjadi perbincangan menarik dan sensasional bagi masyarakat Indonesia. Tindakan radikalisme juga masih menjadi permasalahan serius bagi banyak kalangan. Di mana isu radikalisme juga sering dikaitkan dengan golongan agama tertentu dan tindakan terorisme. Tak jarang juga, pakaian seperti cadar dan celana cingkrang dijadikan stigma dari sebuah paham radikalisme.

Sedangkan arti radikalisme sendiri menurut para ahli merupakan suatu ideologi –ide atau gagasan– dan paham yang ingin melakukan perubahan pada sistem sosial serta politik, dengan menggunakan kekerasan dan cara  ekstrem. Radikalisme itu sendiri banyak aspeknya, baik dalam bidang politik, sosial, dan yang paling menjadi perbincangan hangat dalam bidang kenyakinan agama.

Menanggapi fenomena maraknya isu radikalisme di masyarakat kita, salah satu Reporter Lembaga Pers Mahasiswa Institut Herlin Agustini melakukan wawancara khusus dengan Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Haris Azhar pada Senin (9/12). 

Bagaimana pandangan Anda menanggapi radikalisme saat ini?
Radikalisme merupakan sebuah metode berfikir kritis, melihat fakta-fakta yang meresahkan dan mengambil tindakan-tindakan dalam waktu cepat dengan metode yang tak terpikirkan. Hal itu bisa baik dan tidak tergantung cara yang disuguhkan. Namun dalam praktik sosial politik, tindak radikalisme banyak terjadi. Bahkan ilmu pengetahuan itu sendiri ditemukan dengan metode-metode radikal. 

Saya melihat isu radikalisme hari ini penggunaan katanya sering digunakan untuk membangun atau memelihara permusuhan. Karena rezim penguasa hari ini hidup dengan menikmati perpecahan dengan maksud dan tujuan tertentu. Di mana pemerintahan saat ini hanya memelihara kekuasaan dengan cara keterbelakangan. Menurut saya, hidup dari permusuhan sangat disayangkan. Seharusnya Menteri Agama Fachrul Razi perlu membangun suatu perpaduan, bukan memelihara perpecahan.

Bagaimana fenomena paham radikalisme di masyarakat dan mahasiswa saat ini?
Menurut saya fenomena paham radikalisme yang berkembang di masyarakat itu wajar. Bahkan, sebenarnya mahasiswa harus lebih intensif dalam rangka membangun kritik dan suara publik. Kalau jadi radikal yaa terserah, tapi sejauh ini saya melihat bahwa apa yang dilakukan mahasiswa  sudah baik dan harusnya jauh lebih progresif lagi.

Dalam pandangan saya, kata radikalisme yang disematkan mahasiswa akhir-akhir ini hanya tuduan semata. Tidak ada unsur radikalisme negatif pada mahasiswa. Bahkan saya memandang, kosa kata radikalisme itu sendiri bersifat netral, tidak semestinya digunakan untuk membangun suatu stigma negatif.

Apa dampak paham radikalisme di tengah masyarakat kita? 
Dalam dunia demokrasi, saya memandang radikalisme bukanlah suatu masalah, dengan catatan dilakukan dengan cara tidak melanggar hukum yang berlaku. Kaitanya dengan hal tersebut, peristiwa aksi mahasiswa pada 24 September 2019 silam di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia sebagai contoh di lapangan. Dalam peristiwa tersebut, oknum polisilah yang melakukan tindak kekerasan bukan mahasiswa.

Aksi mahasiswa di Gedung DPR beberapa silam menggambarkan peristiwa kelam, di mana mahasiswa dibubarkan dengan menggunakan gas air mata dan water cannon. Jadi sebenarnya, yang perlu dikhawatirkan kita adalah tindak ekstremisme berupa kekerasan dan pelanggaran hukum. Sedangkan, radikalisme tak mempunyai rumusan normatif dan definisi yang jelas.

Kenapa mahasiswa menjadi sasaran utama penyebaran radikalisme?
Alasan mahasiswa menjadi sasaran utama penyebaran paham radikalisme karena jumlah pemuda saat ini yang banyak. Di mana mereka sedang resah dan negara gelisah menghadapi hal tersebut.
Namun, hal itu bisa dihadapi dengan berbagai upaya, misalnya memerintahkan kampus-kampus untuk mengontrol mahasiswanya. Bisa juga menurunkan pihak kepolisian untuk mengawasi atau mengontrol mahasiswa. 

Melihat sejarah, fenomena sekarang inilah di mana jumlah anak muda meningkat bersamaan dengan laju informasi yang radikal. Hal yang sebenarnya harus dilakukan oleh pemerintah yaitu memberikan informasi, membuka diri, berani mengaku salah dan berani berdialog dengan yang berbeda. 

Herlin Agustini

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition humanitas Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel video wawancara
false
ltr
item
PERSMA INSTITUT - UIN JAKARTA: Stigma Radikalisme Salah Sasaran
Stigma Radikalisme Salah Sasaran
https://1.bp.blogspot.com/-hrbgNJIIl6g/Xi2BRR4uYvI/AAAAAAAALrY/6DeEHLOtbDYGku3ENKkYa_Pnpa46vyNSQCLcBGAsYHQ/s640/haris.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-hrbgNJIIl6g/Xi2BRR4uYvI/AAAAAAAALrY/6DeEHLOtbDYGku3ENKkYa_Pnpa46vyNSQCLcBGAsYHQ/s72-c/haris.jpg
PERSMA INSTITUT - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2020/02/stigma-radikalisme-salah-sasaran.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2020/02/stigma-radikalisme-salah-sasaran.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago