Archive Pages Design$type=blogging

Santri Pencari Jati Diri







Perjalanan tak biasa dilakukan tujuh santri yang berasal dari Guyangan Pati Jawa Tengah.  Dengan bermodalkan barang seadanya, mereka nekat menempuh perjalana dari Pati Jawa Tengah sampai Madura dengan berjalan kaki.

Spiritualitas identik dengan perjalanan seseorang menuju Tuhan. Perjalanan yang dilakukan ketujuh santri ini merupakan sesuatu hal yang baru bagi mereka. Persiapan dan perlengkapan yang ala kadarnya membuat mereka nekat melakukan perjalanan spiritual. Berbagai kesulitan pun sempat mereka alami, namun itu semua tidak membuat perjalanan spiritual mereka terganggu.

Buku karya Ibil Ar Rambany yang berjudul Wali Bonek ini bercerita tentang rekam jejak perjalanan spiritual tujuh orang santri. Tujuh santri yang tanpa bekal nekat mengunjungi makam-makan wali yang berada di Jawa Timur. Santri itu dikenal dengan Bondo Nekat (Bonek). Mereka merupakan tujuh santri asal Guyangan Pati Jawa Tengah. Ketujuh santri tersebut melakukan perjalanan spiritual kelima Wali yang ada di Jawa Timur dan makam Syekh Kholil Bangkalan. Santri yang bernama Ibil, Fuadi, Edi, Rasyid, Aji, Masluchi, dan Firdaus. Mereka menyebut dengan nama kelompoknya Ashabul Ghuroba.

Seusai melaksanakan ujian akhir, mereka berencana melakukan perjalanan spiritual untuk menguji seberapa kuat mereka melakukan perjalanan spiritualnya. Perjalanan dari Pati sampai Madura nekat meraka lakukan dengan persiapan yang cukup sederhana, dari bermodalkan uang 50 ribu hingga barang-barang yang dibawa ala kadarnya.

Alhasil beragam kendala mereka temui dari berjalan kaki, menumpangi truk hingga menumpang ke salah seorang beragama Kristen. Selain itu, Masjid juga menjadi tempat peristirahatan kala melepas lelah selama perjalanan.

Tempat yang pertama mereka tuju makam Syekh Kholil Bangkalan, namun tidak sesuai dengan yang direncanakan. Mereka menumpangi truk pengangkut semen dan tidak sengaja tertidur, tanpa di sadari mereka berada di pabrik semen yang jalurnya bukan ke arah Madura. Karena sudah terlanjur salah jalur, akhirnya mereka memutuskan untuk mengunjungi Sunan Bonang dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Madura.

Dari situ, Aji mulai kehilangan semangat untuk melanjutkan perjalanan spiritualnya. Ia merasa tidak sanggup lagi dan bilang bahwa ia ingin kembali ke Pati. Aji mengatakan kepada teman-temannya kalau dia ingin kembali ke Pati. Hal tersebut membuat kaget dan tidak percaya dengan ucapan Aji. Karena dari awal mereka berkomitmen bersama untuk melakukan perjalanan spiritual tersebut.

Tak kalah mengecewakannya, Aji juga bilangtelah menyembunyikan uang 50 ribu untuk ongkos pulang. Sontak hal itu membuat yang lain pada kaget dan tak percaya. Teman-teman Aji mencoba untuk membujuk supaya Aji tidak kembali ke Pati, namun Aji tetap ingin kembali ke Pati. Mendengar pernyataan Aji, Masluchi member pilihan bahwa dia bisa kembali ke Pati setelah mengunjungi makam Syekh Kholil Bangkalan. Aji menerima tawaran dari temannya itu, namun setelah berkunjung ke makam Syekh Kholil Bangkalan Aji tetap dengan keputusannya kembali ke Pati.

Hanya tinggal berenam, namun mereka tetap melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Sunan Ampel Surabaya, Sunan Giri, Sunan Gresik dan Sunan Drajat adalah tujuan terakhir mereka. Namun sayang, mereka tidak sempat menyelesaikan perjalanannya sampai akhir karena salah satu dari mereka kakinya terluka.

Dari situlah kemudian terjadi silang pendapat anatara kembali atau melanjutkan perjalanan. Malsuchi mencoba menengahi “karena kita berangkat bersama begitu juga kembali,” tuturnya. Mendengar penjelasan Malsuchi, semua sepakat untuk kembali ke Pati, Firdaus dan Fuadi yang awalnya kekeh melanjutkan perjalanan juga menyetujuinya.

Berbagai lika-liku mereka hadapi, seperti bentrok sama preman saat mereka ngamen di jalan untuk bisa makan karena sudah tidak punya uang sepeser pun. Buku ini tak hanya menceritakan kisah perjalanan spiritual santri Bonek, melainkan buku ini juga menceritakan sejarah-sejarah para wali yang sudah mereka kunjungi. Bahasa yang digunakan dalam buku ini lebih menonjolkan bahasa sastra, tapi ada juga bahasa lain seperti bahasa Jawa.

HERLIN AGUSTINI

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition humanitas Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel video wawancara
false
ltr
item
PERSMA INSTITUT - UIN JAKARTA: Santri Pencari Jati Diri
Santri Pencari Jati Diri
https://1.bp.blogspot.com/-z5DOrT_-C1g/XMa30ob14OI/AAAAAAAAK-8/prPwiIuiEz8JCc-ozdnBFI_SC0g618wTgCEwYBhgL/s400/IMG_20190418_0001.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-z5DOrT_-C1g/XMa30ob14OI/AAAAAAAAK-8/prPwiIuiEz8JCc-ozdnBFI_SC0g618wTgCEwYBhgL/s72-c/IMG_20190418_0001.jpg
PERSMA INSTITUT - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2019/06/santri-pencari-jati-diri.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2019/06/santri-pencari-jati-diri.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago