Archive Pages Design$type=blogging

Gagal Tak Berarti Harus Menyerah

Nama   Lengkap                          : Teguh Triesna Dewa                          
Tempat, Tanggal Lahir        : Denpasar, 19 Maret 1993
Jurusan                                              : Ilmu Hukum dan Perbandingan Mahzab dan Hukum
Fakultas                                           : Syariah dan Hukum

Alamat                                               : JL. Raya Muhtar No. 05 Rw.05 Rt.03 Bojongsari, Kota Depok – Jawa Barat

Kegagalan menjadi hal biasa guna meraih prestasi. Bersungguh-sungguh adalah satu kunci kesuksesan.

Ketertarikan pada ilmu hukum, Teguh Triesna Dewa dapat menggapai banyak prestasi di bidang debat. Saking cintanya, mahasiswa kelahiran Denpasar ini rela mengambil dua jurusan di ilmu hukum, Jurusan Perbandingan Madzhab dan Jurusan Ilmu Hukum di Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sejak tinggal di Pondok Pesantren Modern Gontor, ia sering belajar ilmu hukum mulai dari Fiqih, Ushul Fiqih, bahkan Fiqih Kontemporer. Kesukaannya pun berlanjut ketika memasuki perguruan tinggi, ia aktif diberbagai organisasi yang mengadakan kajian di bidang hukum. Seperti Moot Court Community (Komunitas Peradilan Semu), Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum FSH, dan Lembaga Kajian Comperative Law Community.

Sebelumnya, pria kelahiran 19 Maret 1993 ini bercerita, kemampuan debat yang dimilikinya merupakan hasil diskusi dari komunitas yang diikutinya. Menurutnya belajar yang paling efektif untuk meningkatkan wawasan tidak hanya di kelas, namun ketika ngobrol pun kita bisa sharing.

Berkat kecintaannya di bidang hukum, pada 2015 Triesna menjadi juara 1 lomba Debat Konstitusi antar perguruan tinggi se-Indonesia di Universitas Jambi. Selain itu, beragam perlombaan debat tingkat nasional pernah ia juarai, seperti juara 1 Debat Nasional di Universitas Lambung Mangkurat, Debat Keterbukaan Informasi Publik, serta Juara 1 Debat Univertitas Tingkat Nasional Padjajaran Law Fair di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran.

Selain berprestasi di bidang debat, Triesna pun mahir di bidang desain grafis. Hal  ini terbukti ketika mengikuti lomba membuat logo di fakultasnya, ia menang dan terbukti hingga sekarang hasil karyanya dipakai di FSH. Kemudian, di bidang olahraga tahun 2010 ia meraih menjadi juara 2  olimpiade badminton di Gontor.

Di balik kesuksesan Triesna, ternyata ia pun pernah beberapa kali mengalami kegagalan. Pertama, dalam lomba Debat Konstitusi Mahasiswa di fakultasnya, padahal waktu itu ia ditunjuk sebagai perwakilan untuk melaksanakan Debat Nasional di Universitas Padjajaran. Kegagalan kedua ketika lomba debat di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Namun, dua kegagalan itu tidak memadamkan semangatnya, justru dari kekalahan itu ia menyadari kekurangannya. Menurutnya kalah bukan berarti gagal, justru dari kekalahan itu kita bisa mengevalusi apa yang kurang pada diri kita. "Pada perinsipnya, kekalahan itu membuat kita belajar bahwa kemenangan itu diraih dengan belajar sungguh-sungguh," katanya.

Mahasiswa semester sembilan ini juga berpendapat bahwa kurangnya fasilitas kampus bukan menjadi alasan menghambat prestasi. Menurutnya dengan semakin canggihnya teknologi, semua bahan mata pelajaran bisa dengan mudah didapatkan. "Jadi gak ada alasan untuk menghambat prestasi" katanya.

Selain itu, Trisna juga menceritakan bahwa adanya dukungan orangtua, teman, dan dosen juga merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang prestasi. Pria yang lebih suka menghabiskan waktu dengan keluarga ini mengemukakan bahwa kesuksesan yang diraihnya merupakan hasil dukungan orang tuanya. "Doa dan izin orang tua, itu adalah hal yang utama," tuturnya.

Dari prestasinya di bidang debat, Triesna sering dipanggil untuk mengisi materi dalam acara seminar. Salah satunya seminar kebangsaan Menghadapi Tantangan MEA yang dilaksanakan di Aula Madya UIN Jakarta. Selain itu juga sebagai pengisi materi metode logika hukum dalam acara Moot Court Community.

Pria yang memiliki moto 'mimpi kita tidak boleh hanya untuk kita sendiri' ini bercita-cita untuk dapat memberikan kesuksesan terhadap orang yang dicintanya. Menurutnya, cita-citanya tidak hanya untuk kesuksesan diri sendiri tapi juga terhadap orang lain. "Ketika kita berhasil menjadikan orang lain sukses, itulah kesuksesan sesungguhnya," tukasnya.

Yayang Zulkarnaen

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Gagal Tak Berarti Harus Menyerah
Gagal Tak Berarti Harus Menyerah
https://2.bp.blogspot.com/-4hD6qo_KwAk/WBoOyyoAoUI/AAAAAAAAIfs/Ni_GVAONVgg0OjKtKWtigBSSOia6Xxq9wCLcB/s400/Foto.jpeg
https://2.bp.blogspot.com/-4hD6qo_KwAk/WBoOyyoAoUI/AAAAAAAAIfs/Ni_GVAONVgg0OjKtKWtigBSSOia6Xxq9wCLcB/s72-c/Foto.jpeg
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2017/01/gagal-tak-berarti-harus-menyerah.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2017/01/gagal-tak-berarti-harus-menyerah.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago