Archive Pages Design$type=blogging

Kebudayaan Tangsel Perlu Perhatian Khusus


Perkembangan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dari hari ke hari kian pesat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pendatang yang singgah dan menetap di kota tersebut. Maka dari itu, akulturasi antara pendatang dan penduduk asli pun sulit dihindari. Dengan kondisi seperti ini, budaya asli Kota Tangsel sulit ditemukan. 

Hal tersebut dikatakan oleh Perwakilan Dinas Kehutanan dan Pariwisata Tangsel, Hidayat, dalam kegiatan diskusi publik yang diselenggarkan di aula Kopertais UIN, Kamis (25/9). Menurut Hidayat, Tangsel harus punya kebudayaan baru yang benar-benar mencirikan dan menggambarkan kota Tangsel. 

“Waktu itu saya mencoba untuk mengklaim salah satu budaya Betawi yaitu Lenong sebagai kebudayaan Kota Tangerang Selatan. Namun, saat diajukan ke Mahkamah Agung usulan ditolak karena Lenong sudah lebih dulu menjadi identitas DKI Jakarta,” ujar Hidayat.

Senada dengan Hidayat, Dewan Pembina Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB), Murodi menjelaskan, Tangsel merupakan kota yang baru saja dibentuk, sehingga sulit untuk menentukan kebudayaan asli Kota Tangsel. “Mau tidak mau pasti sering berbenturan dengan kebudayaan DKI Jakarta akibat letak geografis yang berdekatan,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Murodi, harus ada Undang-Undang (UU) demi terciptanya pelestarian dan pengembangan budaya Betawi di Tangsel. “Pemerintah Kota Tangerang Selatan berkewajiban membuat UU bagi pelestarian dan pengembangan kebudayaan Betawi, serta sebagai usaha dari pemerintah daerah untuk melindungi kebudayaan asli masyarakat Kota Tangerang Selatan,” paparnya.

Menanggapi hal tersebut, Ade Iriana, Kepala Bagian Hukum Tangsel menuturkan, untuk membuat UU atau Peraturan Daerah (Perda) memerlukan proses dan biaya yang tidak sedikit. “Pembuatan satu Perda dapat menghabiskan biaya sekitar satu sampai dua milyar. Perda pun harus dapat dijalankan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat,” kata Ade.

Diskusi publik yang bertema peraturan pemerintah Kota Tangsel mengenai masyarakat dan kebudayaan asli Kota Tangsel ini, bertujuan untuk membangun dan memajukan daya kritis mahasiswa. 

Ketua Pelaksana, Atik Afidatah mengatakan, diskusi ini sebagai acara pembuka Musyawarah Wilayah II Pengurus Wilayah FKMB Kota Tangsel. Ia berharap, adanya acara ini mendapat perhatian dari pemerintah daerah dengan adanya perlindungan bagi masyarakat asli Kota Tangerang Selatan. Sehingga, citra kebudayaan dan etnis asli kota Tangsel tetap terjaga.


JK

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Kebudayaan Tangsel Perlu Perhatian Khusus
Kebudayaan Tangsel Perlu Perhatian Khusus
https://1.bp.blogspot.com/-_W96qUE9H_4/V_fM71lOuZI/AAAAAAAAIH4/mQNiMUodTTkaUgbPnytkJEpu3PZvAgHbQCLcB/s400/Kebudayaan%2BTangsel%2BPerlu%2BPerhatian%2BKhusus.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-_W96qUE9H_4/V_fM71lOuZI/AAAAAAAAIH4/mQNiMUodTTkaUgbPnytkJEpu3PZvAgHbQCLcB/s72-c/Kebudayaan%2BTangsel%2BPerlu%2BPerhatian%2BKhusus.jpg
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2014/09/kebudayaan-tangsel-perlu-perhatian.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2014/09/kebudayaan-tangsel-perlu-perhatian.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago