Archive Pages Design$type=blogging

Keraman

Oleh: Irsyad Zulfahmi*


Kau yang bertamu di pikiranku.

Yang mengemudikan badai,

bahkan di waktu sekarang, sebuah hari yang merosot.



Kau dalam arah, dengan zirahmu,

berdenyut rangkap,

dan semoga pukulanmu mengejangkan musim.



Badan silindris gelap, lahir dari baja semacam perak.

Agak berat dan berjalan sedikit lambat dari angin.

Paralel dan terhubung dari tangkai-tangkai,

ada pula yang berputar di bagian sisi.

Metris, terengah-engah sambil meraung-raung,

terlihat runcing dari kejauhan.

Tepat di depan, adalah cahaya yang bulat besar



Penantian panjang membuat sedikit kusam

Hanya  musik yang keluar dari suara uap air,

serta  lonceng dengan warna perunggu yang indah.



Awan suram yang tebal padat keluar,

berhembus lewat rongga asapmu.

Bingkainya dirajut- klep (musim semi, mata air)  milikmu,

klep yang yang gemetar dari roda kemudi milikmu

Sisanya ya di belakang, mengekor taat dengan riang.

 Dari angin ribut atau tenang, sekarang burung layang-layang,

 Tapi detik ini semua mulai mengendur,

 namun kau tetap mantap meniti karir.



Jenis yang modern tiba!

Lencana menggerakkan dan lebih bertenaga!

Denyut nadi benua!

Hanya sekali, yang melayani datang dengan merenung.



Menggabungkan sajak dan  ayat,

bahkan waktu di sini  aku melihatmu,

dengan badai, dan hembusan keras angin saat melaju,

lalu jatuhlah butiran embun.



Siang hari, peringatan milikmu,

membunyikan bel untuk nada catatannya.

Di waktu malam hari, lampu sinyal diam milikmu mengayun.

Gulungan nyanyianku,

dengan semua musik tidak patuh pada hukum milikmu!

Tapi  lampu tetap berayun seperti malam- malam biasanya

Penembusannya, tawa yang besar dari peluit.

Gemanya, bergemuruh suara gempa bumi,

membangunkan habitat di sekelilingnya.



Hukummu yang  lengkap untuk diri sendiri sajalah.

Tapi harmonimu menjejaki dengan kuat memegang ingatan.

Tidak ada kemanisan yang  bagitu riang di sini,

cukup harpa menyedihkan atau piano fasih milik mu.

Pekikanmu dari klakson

mencekik suram batu karang dan di belakang  bukit,

Kepada langit yang cuma-cuma.

Pada meja penantian yang ada berkiblat padaku:

“Saat ini aku telah tiba di tujuan akhir dengan lebih kuat”


Jakarta/28-08-2011/11:52

*Penulis adalah Komunitas Sastra Majelas Kantiniyah

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Keraman
Keraman
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2014/04/keraman.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2014/04/keraman.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago