Archive Pages Design$type=blogging

Peran Mahasiswa dalam Politik 2014



Sumber Internet

Tahun 2014 adalah tahun pemilu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melepaskan pemerintahannya dan rakyat Indonesia bersama-sama menggelar pesta demokrasi untuk memilih pemimpin Nusantara yang baru. Lalu bagaimana dengan mahasiswa? Apa yang mereka perankan dalam tahun pemilu ini?

Untuk mendapat kejelasan yang lebih mendalam tentang peran mahasiswa di pemilu 2014 ini, Reporter INSTITUT  Siti Mualiah mewawancari pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta sekaligus Peneliti Senior  Lembaga  Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi, Jumat (10/01). Berikut petikannya:

Pemilu akan digelar pada tahun ini, bagaimana pandangan Anda melihat peran mahasiswa dalam politik saat ini?

Secara umum saya melihat peran mahasiswa di dunia politik belakangan ini mengalami proses penurunan. Terutama jika kita bandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, di mana kontribusi mahasiswa di dalam mendesakkan agenda sesuai dengan kepentingan publik melalui berbagai macam cara. Baik itu melalui diskusi publik, demonstrasi, maupun petisi sangat terlihat.

Namun hampir sepuluh terakhir, Saya melihat peran itu sepertinya makin berkurang. Mahasiswa lebih asik dengan dunianya sendiri dan dengan dirinya sendiri. Mereka melakukan banyak kegiatan untuk mempercepat kelulusan, dan saat yang sama mereka melupakan peran yang seharusnya mereka lakukan.

Seharusnya, jelang pemilu 2014, mahasiswa mengambil langkah-langkah yang kontributif bagi kepentingan transisi menuju demokrasi. Entah itu dalam bentuk civic atau votes education (pendidikan bagi pemilih agar memilih yang benar) atau melakukan pemantauan pemilu.

Beberapa parpol sudah masuk kampus untuk menjaring melalui gerakan-gerakan mahasiswa, bagaimana Anda melihat hal tersebut?

Ya wajar saja, partai politik sedang mencoba mencari simpati mahasiswa dengan melakukan kegiatan atau langkah-langkah untuk mendekatkan diri pada mahasiswa. Jika kita melihat jumlah pemilih dari kalangan pemilih pemula, jumlah pemilih dari kalangan mahasiswa makin lama makin besar. Jadi kalau kita lihat grafik BPS, pemilih dari usia 17-25 tahun mencapai 22% dari jumlah pemilih tingkat nasional, dan dari 22% tersebut berasal dari kalangan mahasiswa.

Jadi alasan mengapa parpol melakukan hal itu sederhana. Mahasiswa yang secara statistik memiliki jumlah lebih besar, secara kualitatif pun mahasiswa lebih dapat dipercaya oleh pemilih. Maka dari itu, jika mahasiswa berhasil direkrut oleh partai politik melalui kegiatan yang mereka lakukan, diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan dukungan suara secara luas pada parpol tersebut.

Bagaimana sejarah gerakan mahasiswa di kampus-kampus?

Jika melihat dari awal sejarah gerakan mahasiswa, sebenarnya bisa kita tarik pada zaman kolonialisme belanda. Boedi Oetomo, Sarekat Islam, kemudian gerakan-gerakan yang melahirakan partai politik non-kompromis pada masa era kolonialisme belanda terbentuk dari kegundahan kalangan terdidik.

Poin dari awal gerakan mahasiswa, gerakan yang dibangun berdasarkan ideologi. Jika ideologinya keislaman, maka dia aktif di organisasi yang memperjuangkan religio politico Islam. Tapi jika ia dibesarkan dalam tradisi ideologi nasionalis, maka ia akan bergerak dalam gerakan mahasiswa yang nasionalis.

Pada akhirnya, kalau melihat sejarah Indonesia pasca proklamasi 1945, gerakan mahasiswa makin muncul. Sampai kemudian, sejarah perkembangan berikutnya yang terjadi pada  tahun 65-66 saya kira sangat krusial. Sebelum terjadinya apa yang disebut sebagai pembrontakan G30SPKI, ada pertarungan antar gerakan mahasiswa di kampus-kampus.

Saat itu, perang wacana atau perang diskusi antar gerakan mahasiswa sudah menjadi hal yang lumrah di kampus. Sampai kemudian, hal itu semakin tidak tertampung dan buntu oleh persoalaan politik yang formal kemudian melahirkan pembrontakan.

Lalu bagaimana Anda melihat kedekatan mahasiwa dengan parpol yang masuk kampus?

Kalau terlalu partisan, akan menimbulkan kesan bahwa mahasiswa telah terkontaminasi oleh partai politik. Kesan tersebut muncul dari hipokrisi. Seharusnya mahasiswa tidak buta politik jadi  harus dibuka saja hak mereka berpolitik. Silahkan ada mahasiswa yang dekat dengan partai A, partai B, partai C, sebagai kontestasi wacana.

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Peran Mahasiswa dalam Politik 2014
Peran Mahasiswa dalam Politik 2014
http://2.bp.blogspot.com/-kJtH_N5Y828/UtU-VwICZpI/AAAAAAAACxk/d0aoxYWhiRw/s1600/Sumber+Internet.jpg
http://2.bp.blogspot.com/-kJtH_N5Y828/UtU-VwICZpI/AAAAAAAACxk/d0aoxYWhiRw/s72-c/Sumber+Internet.jpg
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2014/01/peran-mahasiswa-dalam-politik-2014.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2014/01/peran-mahasiswa-dalam-politik-2014.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago