Menyatukan Persepsi Makna dengan Menerjemah



Workshop Penerjemahan & Bedah Karya “Kreatif Berkarya, Cerdas Berbahasa”  yang diadakan UKM FLAT di Teater Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi lantai dua, Selasa, (4/6) merupakan rangkaian pelengkap dari berbagai karya terjemahan anggota muda FLAT pada masa pendidikan.

“Mereka (anggota muda) mempunyai project dalam menerjemahkan film, lagu daerah, novel, dan lain-lain ke dalam bahasa Inggris dan Arab," jelas Irsyad Bahalwan, Ketua Pelaksana seminar. Setelah berbagai karya tersebut diterjemahkan, pembedahan merupakan langkah lanjutan yang akan dilakukan dalam workshop tersebut.

Irsyad menjelaskan, proses menerjemah tidaklah semudah yang dibayangkan, namun sering terdapat perbedaan pemahaman antara maksud asli karya dengan maksud dari sang penerjemah, “Untuk itu kita mengadakan workshop, supaya para mahasiswa dapat memahami cara menerjemah yang baik dan benar,” ungkapnya.

Seminar yang dihadiri Irfan Abu Bakar selaku Director of Center for Student Religion & Culture dan Anna Wiksmadhara sebagai Sekretaris Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) ini tidak hanya membahas sisi teoritis saja namun langsung pada tataran teknis.

Irfan menjelaskan, untuk menghindari kesalahpahaman makna, sebaiknya sang penerjemah berasal dari negara asal karya yang diterjemahkan. Contohnya ketika buku bahasa Inggris ingin diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sebaiknya diterjemahkan oleh orang Inggris yang mengerti bahasa Indonesia, begitupun sebaliknya.

Faktanya, tidak semua karya terjemahan berkualitas baik, sehingga HPI selalu mengadakan tes sertifikasi bagi penerjemah professional. Melalui Anna, HPI menjabarkan bahwa sertifikasi merupakan salah satu bentuk layanan HPI sebagai tolak ukur bagi publik untuk memilih penerjemah yang berkualifikasi dan sesuai dengan kebutuhan industri.

Acara yang dimulai dari pukul 08.00 hingga 13.30 ini cukup mendapat animo baik dari mahasiswa. Septian Eko, mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris (BSI) salah satunya.  “Penerjemah lepas itu bisa meraup uang sebesar empat belas juta sekali menerjemah, jadi saya tertarik menekuni karir sebagai penerjemah.”

Namun, workshop penerjemah dan bedah karya ini tidak menempatkan susunan acara yang pas,  Eko menambahkan ia sangat menyayangkan pengemasan acara yang didahului oleh Anna dalam tataran teknis baru kemudian Irfan dengan tataran teori, “Seharusnya kan teori dulu baru praktek,” pungkasnya. (Tya)

Related News

Tidak ada komentar:

Leave a Reply