Archive Pages Design$type=blogging

“Di Balik Frekuensi”, Menguak Kejahatan Media





Judul              : Di Balik Frekuensi
Sutradara        : Ucu Agustin
Produser         :Ursula Tumiwa



Gelombang frekuensi merupakan salah satu sumber daya milik negara yang amat potensial. Namun, bagaimana jika frekuensi dikonglomerasi sejumlah orang?, Dan bagaimana jika frekuensi diperalat untuk kepentingan golongan tertentu?

Melalui kisah Luviana, jurnalis yang di-PHK secara sepihak oleh MetroTV, film berjudul “Di Balik Frekuensi” menguak kisah tentang eksploitasi frekuensi dan politisasi media di Indonesia. Tak hanya Luviana, Kisah Hari Suwandi, korban lumpur lapindo yang melakukan aksi jalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta juga diceritakan dalam film tersebut.

Intrik nakal yang terjadi antara dua televisi berita ternaman MetroTV dan TVOne, menjadi tokoh utama dalam film bergenre dokumenter ini. Ucu Agustin sebagai sutradara film ini berhasil memyampaikan  “kejahatan”  dari dua TV berita tersebut.

Berawal dari kasus Luviana dan beberapa temannya sesama jurnalis yang gajinya tidak dibayar selama beberapa bulan. Kemudian ia  menuntut dibuatnya serikat pekerja pers MetroTV untuk peningkatan kesejahteraan pegawai (jurnalis) di MentroTV. 

Namun usaha Luviana malah berbuntut panjang. Sebagai jurnalis Luviana di non-aktifkan bekerja selama beberapa bulan tanpa alasan yang jelas. Setelah mengajukan protes, ia malah dipindahkan ke bagian HRD.

Berbagai macam upaya ia lakukan untuk menuntu haknya. Ia mengadukan diri ke Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pers, Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Serikat Pekerja, dan lainnya. Walaupun ia berhasil menemui Surya Paloh, direktur utama MetroTV untuk mengadukan kasusnya. Namun, hal itu tidak mengubah apapun. Beberapa bulan kemudian ia menerima surat PHK dari MetroTV  

TVOne, sebagai saingan MetroTV pun tak mau melewatkan kasus Luviana sebagai “santapan besar” yang harus terus diberitakan. Berbagai macam sudut pandang berita tentang kasus Luviana terus mengalir. Perang politik antara Surya Paloh dan Abu Rizal Bakrie terlihat jelas melalui dua kisah dalam film ini.

Hari Suwandi yang melakukan aksi jalan kaki dari Porong, Sidoarjo ke Jakarta untuk menuntut ganti rugi bagi korban lumpur lapindo. Ia berniat menemui  Bakrie untuk menuntut ganti rugi. Namun, setelah ia sampai di Ibu kota perjuangannya sia-sia. Bakrie tidak menemuinya, tidak ada pihak yang dapat memberikan pertanggungjawabannya pada korban lumpur.  

Bahkan saat diwawancarai di TVOne  tiba-tiba Hari Suwandi menangis dan meminta maaf pada Bakrie Group dan seluruh keluarga besar Bakrie. Hal itu sangat mengejutkan seluruh warga Sidoarjo. Bagaimana bisa Hari Suwandi yang sudah rela menempuh satu bulan perjalanan dengan berjalan kaki, namun sesampainya di Jakarta ia malah meminta maaf pada Bakrie.

Kemudian, setelah pemberitaan TVOne yang menampilkan wawancara live Hari Suwandi, keberadaan Hari Seolah menghilang tidak ada yang mengetahuinya. Apakah ia masih hidup atau tidak.  

Hal yang sama dengan TVOne saat memberitakan Luviana juga terulang kembali. Kali ini giliran MetroTV yang terus mem-blowup berita tentang Hari Suwandi yang lagi-lagi dikaitkan dengan Bakrie sebagai biang keladi permasalahan ini. 

Persaingan antara dua stasiun TV ternama Indonesia ini pun terlihat jelas. Ditambah lagi dengan persaingan pemilik dua media tersebut yang akan beradu dalam satu panggung di tahun 2014. Film ini dapat menyadarkan kita sebagai penonton yang harus selektif dalam memilih tontonan dan jangan mudah terpengarug pada suatu pemberitaan.

Film ini cocok untuk ditonton semua kalangan, terutama bagi para pengamat media. Di Balik Frekuensi  juga menyajikan informasi tentang pertumbuhan media massa  beserta data-datanya diakhir tanyangan. 

Sinematografi  dalam film berdurasi 144 menit 27 detik ini juga memukau. Walaupun bergenre dokumenter film ini tidak membuat anda bosan saat menontonya, karena perpaduan kisah Luviana dan Hari Suwandi  digabung dengan alur yang menarik. 

Meskipun kisah Luviana dan Hari Suwandi merupakan kisah berbeda tanggal, tempat, dan waktu tetapi, tetap bisa bersinergi dengan baik. Sehingga, apa yang ingin disampaikan Ucu dan Ursula Tumiwa, sang produser dapat tersampaikan dengan baik pada para penontonnya.
Lihat review-nya disini:


(Nida Ilyas)
Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: “Di Balik Frekuensi”, Menguak Kejahatan Media
“Di Balik Frekuensi”, Menguak Kejahatan Media
https://1.bp.blogspot.com/-Aw-7eRKr-vQ/USOh8Z0ChRI/AAAAAAAABss/c9GA98eo2IY/s400/di+balik+frekuensi.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Aw-7eRKr-vQ/USOh8Z0ChRI/AAAAAAAABss/c9GA98eo2IY/s72-c/di+balik+frekuensi.jpg
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2013/02/di-balik-frekuensi-meguak-kejahatan.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2013/02/di-balik-frekuensi-meguak-kejahatan.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago