Beberapa mahasiswa berbaris rapi sambil mengangkat banner bertuliskan “Mengutuk keras penembakan yang terjadi di Kampus Unpam dan usut tuntas kasus penembakan di Unpam”. Meski suara mereka tak sekeras suara petir, tak hentinya mereka berorasi mengajak mahasiswa yang berlalu lalang untuk bergabung ke dalam barisan.
Cuaca siang itu mendung dan suara geledek menggelegar. Tapi tak membuat gentar beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMI) yang melakukan aksi solidaritas terhadap mahasiswa Universitas Pamulang (Unpam) yang menjadi korban saat bentrok dengan polisi, Kamis (18/10).
Hujan pun turun, mereka basah kuyup, tapi keadaan itu tak menjadi masalah bagi mereka. Semakin deras hujan, semakin kokoh barisan yang mereka buat di depan gedung Fakultas Tarbiyah. Sayangnya, mahasiswa yang melintas depan mereka sibuk menyelamatkan diri dari air hujan.
Sebelumnya mereka sempat berorasi di depan gerbang keluar kampus. Mereka membuat barisan dibahu jalan, tak peduli banyak kendaraan hilir-mudik. Kehadiran mereka menjadi perhatian orang-orang yang melintas dan mahasiswa yang keluar masuk, tapi tak ada yang bergabung dengan niat baik mereka.
Dengan rambut dan kaos hitam kuyup, Haikal mengatakan, aksi ini dilakukan karena aparat polisi bertindak represif terhadap mahasiswa dan sebagai bentuk solidaritas terhadap mahasiswa Unpam yang menjadi korban. “Juga untuk menyadarkan mahasiswa lain yang tidak peduli dengan kejadian kemarin,” ujar ketua GMI itu.
Saat bentrok itu terjadi, kata Haikal, dua mahasiswa Unpam, Jundi Fajrin dan Ferry Irawan menjadi bukti kesewenang-wenangan polisi dalam bertindak. Jundi terkena pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang sehingga tengkoraknya retak, sedangkan Ferry tertembak di bagian perut.
Sama halnya dengan Haikal, humas GMI, Rijal Boim, menyayangkan sikap mahasiswa yang acuh terhadap kasus yang sedang terjadi. Padahal yang menjadi korban adalah mahasiswa. Menurutnya, rasa solidaritas mahasiswa sekarang sangat berbeda dengan mahasiswa dulu. “Kemarin, waktu salah satu wartawan dipukul sama TNI, wartawan se-Indonesia berdemo dan mengutuk perbuatan itu, tapi kenapa teman kita dari Unpam menjadi sasaran timah panas polisi kita diam saja,” katanya sambil mengerutkan dahi.
Bentrokan itu bermula ketika kedatangan Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, yang hendak menjadi pembicara pada acara seminar tentang RUU Kamanas. Mahasiswa Unpam menolak kedatangan Wakapolri akhirnya bentrok pun terjadi.
Koordinator mahasiswa Unpam Fahmi mengatakan, penolakan terjadi karena kinerja Polri yang belakangan ini cenderung arogan dan represif dalam menangani segala macam bentuk gerakan yang mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat. Mulai dari kasus Mesuji, Bima, Ogan Ilir dan gerakan aksi mahasiswa dan masyarakat.
Para mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Mahasiswa Unpam menuntut kepolisian agar segera membebaskan sebelas orang mahasiswa Unpam yang ditangkap. "Jika sampai hari Senin tidak juga dibebaskan, kami akan menggelar aksi secara serentak di seluruh Indonesia," tegas Fahmi. (A. Sayid Muarief)