Archive Pages Design$type=blogging

Metamorfosis Perbudakan, Eksploitasi Manusia yang Merdeka

Kondisi perempuan dan anak-anak di Indonesia masih memperihatinkan. Mereka kerap menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking). Perempuan merupakan korban perdagangan manusia yang paling banyak. Bukan rahasia umum, pelaku perdagangan manusia adalah orang terdekat mereka, seperti orang tua saudara, tetangga, tokoh masyarakat setempat. Himpitan ekonomi dan kemiskinan menjadi alasan klasik, sehingga tega menjerumuskan dan menjual anak perempuannya.

Budaya patriarki yang masih kental di tenagh masyarakat, anak perempuan adalah milik keluarga, sehingga bisa menjadi komoditas. Streotype perempuan adalah makhluk yang lemah, obyek yang mudah diperdaya, tidak perlu pendidikan tinggi, harus kawin muda dan keperawanan bisa diperjualbelikan. Masa depan yang mereka gadaikan tidak sebanding dengan jumlah uang yang diperoleh.

Indonesia memang sudah mengesahkan Undang-Undang (UU) No.21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Tapi, kenyataannya UU tersebut belum bisa memberantas perdagangan manusia. UU sebagus apa pun jika Implementasinya masih lemah, UU PTPPO ini tidak akan bisa melindungi para korban perdagangan manusia.

Selain itu, Setiap tahun jumlah korban perdagangan manusia di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data Badan Reserse Kriminal Polri tahun 2010 saja, jumlah human trafficking di Indonesia mencapai 607 kasus. Para korbannya 1.570  orang dewasa (76,4%) dan 485 anak-anak (23,6%). Hal tersebut seperti fenomena gunung es, berapa jumlah korbannya sulit dipastikan, jumlah yang tidak melapor diperkirakan lebih besar.

Bentuk-bentuk perdagangan manusia, antara lain: kawin kontrak, pengantin pesanan, pengiriman duta kebudayaan, pengemis terorganisir, pengedar narkoba, penjualan bayi, perdagangan organ tubuh, prostitusi anak dan wanita, buruh migran ilegal, umroh, adopsi anak dan target pengidap pedofilia.

Kemiskinan, lilitan hutang, rendahnya tingkat pendidikan, sempitnya lapangan kerja, minimnya informasi tentang bahaya perdagangan manusia, konflik, bencana dan penegakan hukum yang masih lemah menjadi pendorong tingginya tingkat perdagangan manusia di Indonesia.

Jeratan kemiskinan membuat perempuan gampang menerima berbagai pekerjaan yang ditawarkan. Mereka tidak khawatir ketika orang terdekatnya menawarkan pekerjaan, karena berfikir mereka tidak mungkin dijerumuskan. Tapi, sebaliknya tidak jarang orang terdekatlah yang menjual mereka. Akhirnya, mereka dieksploitasi secara fisik, psikis, seksual sampai ekonomi.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah bagaimana mengatur sistem perekonomian yang baik sehingga dapat memberantas kemiskinan, meningkatkan pendidikan, mengkampanyekan agar masyarakat membuka lapangan kerja. Budaya Indonesia, masyarakat masih mencari pekerjaan bukan membuka lapangan pekerjaan.

Pemerintah juga perlu meningkatkan keamanan terutama di jalur transportasi seperti bandara dan pelabuhan, sehingga bisa mempersempit ruang gerak sindikat perdagangan manusia. Pemerintah  harus mempertegas pelaksanaan tata aturan bagi agen tenaga kerja ke luar negeri, karena selama ini pelaksanaan tata aturan tersebut masih carut marut.

Selain itu, informasi mengenai bahaya perdagangan manusia masih minim di kalangan masyarakat, terutama di pedesaan dan tempat terpencil. Padahal, biasanya pedesaan dan tempat terpencil menjadi tempat modus trafficker (orang yang memperdagangkan) untuk menjerat korbannya. Pemerintah pusat maupun daerah bisa bekerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau berbagai institusi untuk aktif mengkampanyekan bahaya perdagangan manusia.

Modus Operandi

Dewasa ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan transportasi. Modus operandi perdagangan manusia pun semakin kreatif dan canggih. Aparatur pemerintah sulit mengungkap jaringan mereka, karena dalam melakukan aksinya mereka begitu rapi dan terorganisir. Pemerintah dan tokoh masyarakat pun secara tidak sadar ikut membantu para trafficker, seperti membuat dokumen palsu.

Modus perdagangan manusia yang paling banyak adalah penipuan yang dilakukan oleh Penyalur Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Tahap awal, merekrut calon buruh migran perempuan 16-25 tahun yang diambil dari desa, dibawa ke Jakarta, diurus semua dokumen, identitas asli mereka diubah dan diganti identitas palsu.

Di Jakarta, mereka tinggal di penampungan, buruh migran tidak diperbolehkan untuk berkomunikasi dengan keluarga, tidak diberi informasi mengenai kontrak kerja dan situasi atau kultur negara tujuan. Sebelum keberangkatan, buruh migran tidak tahu negara mana yang akan mereka tuju. Mereka baru tahu setelah mendarat di negara tersebut.

Sampai di negara tujuan, paspor mereka diambil majikan, tidak boleh berkomunikasi dengan kelurga, teman di kampung, dilarang bersosialisasi, jam kerja yang panjang 14-18 jam sehari, mengatur pekerja dengan kata-kata kasar dan kekerasan fisik, hidup tidak layak, diperkosa majikan laki-laki dan gaji dibayar lebih kecil.

Modus lainnya adalah calon korban dijanjikan menjadi penari tradisional atau duta kebudayaan, dengan dalih pekerjaan yang mudah, hanya menari dan menyanyi lagu tradisional dan gaji 4 juta plus tip. Biasanya, para pelaku mencari perempuan desa yang cantik, pintar menyanyi dan menari.

Setelah korban terjerat, lalu dikirim ke luar negeri. Tetapi, setelah sampai di negara tujuan, mereka diberi surat hutang (biaya yang dikeluarkan membawa mereka ke luar negeri) yang harus dilunasi. Mereka dipaksa bekerja sebagai pegawai bar dan melayani seks pada tamu-tamu yang datang untuk melunasi hutangnya.

Setelah hari raya lebaran, biasanya banyak orang dari dalam dan luar jawa yang akan tumpah ruah ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Hal tersebut perlu diwasapadai, para trafficker juga melakukan aksinya di stasiun-stasiun kereta api dan terminal-terminal bis dengan membagikan selebaran kerja palsu.

Islam Tentang Perdagangan Manusia

Perdagangan manusia bermula dari perbudakan, perbudakan telah terjadi pada umat jauh sebelum Nabi Muhammad saw diutus dan Islam datang. Pada jaman jahiliyah, anak perempuan yang lahir akan dikubur hidup-hidup oleh orang tuanya. Anak perempuan pada masa itu adalah aib bagi keluarga, anak perempuan yang hidup hanya akan menjadi budak seks para laki-laki.

Pada jaman Nabi Ibrahim as, perbudakan tercermin dari kisah Sarah yang memberikan budaknya Siti Hajar untuk dinikahi oleh Nabi Ibrahim as. Selain itu, perdagangan manusia pernah menimpa salah satu nabi, yaitu kisah Nabi Yusuf yang diceburkan ke dalam sumur tua oleh saudara-saudaranya yang merasa iri. Ia lalu ditemukan oleh seorang saudagar, ia dijual pada seorang pembesar di Mesir.

Setelah Islam datang, sosok perempuan terangkat derajatnya. Islam melindungi anak perempuan dari tindakan-tindakan brutal, seperti mengubur hidup-hidup dan menjadi budak seks. Selain itu, Rasulullah saw juga berupaya menghapus perbudakan. Setiap orang yang melanggar ajaran agama, salah satu pilihan hukumannya adalah memerdekakan budak.

Seperti yang dijelaskan dalam Alquran, surat Al-Maidah ayat 89 “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat melanggar sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.”

Kini, perbudakan bermetamorfosis menjadi lebih modern, yaitu perdagangan manusia (human trafficking). Di era modern ini, perdagangan manusia lebih kejam daripada perbudakan, karena yang dieksploitasi adalah orang yang merdeka. Islam dengan tegas menolak dan mengaharamkan perbudakan dan perdagangan manusia, karena bertentangan dengan tauhid yang mengajarkan kebebasan atau kemerdekaan, kesetaraan dan penghargaan antar sesama manusia termasuk alam. Perdagangan manusia juga telah merampas hak asasi manusia (HAM) seseorang dan melawan Tuhan.

Dalam sebuah hadis, Allah swt mengancam keras orang yang menjual manusia, dengan ancaman permusuhan dengan Allah. Dari Abu Hurairah dan  Nabi saw, beliau bersabda bahwa Allah swt berfirman : “Tiga golongan manusia yang akan menjadi musuh besarku pada  hari kiamat nanti, yaitu : pertama, orang yang telah mengadakan perjanjian denganKu lalu  melanggarnya, kedua, orang yang menjual orang merdeka lalu memakan hartanya dan ketiga, orang yang tidak memberikan upah buruh (pekerja) yang sudah melaksanakan pekerjaannya.” (HR. Bukhari)

Obyek perdagangan manusia yang paling banyak adalah perempuan, mereka dipaksa untuk bekerja di tempat-tempat prostitusi. Islam adalah agama yang menghormati dan melindungi perempuan, secara tegas, dalam Alquran surat An-Nur ayat 33 dijelaskan, “Dan janganlah kamu paksa para perempuan untuk melakukan pelacuran padahal mereka menginginkan kesucian, hanya karena kamu menginginkan harta duniawi.”

Anastasia Tovita, Mahasiswi semester 2, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan IPS, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Metamorfosis Perbudakan, Eksploitasi Manusia yang Merdeka
Metamorfosis Perbudakan, Eksploitasi Manusia yang Merdeka
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2012/08/metamorfosis-perbudakan-eksploitasi.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2012/08/metamorfosis-perbudakan-eksploitasi.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago