Archive Pages Design$type=blogging

Membincang Zakat dan Distribusinya

Zakat berasal dari kata zaka yang berarti suci, berkah, tumbuh, dan berkembang. Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya (mustahiq) menurut ketetapan yang telah ditentukan oleh syariat Islam. Zakat merupakan bagian dari rukun Islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.

Zakat merupakan pembersih diri dan harta dari kemungkinan diperoleh dengan jalan tidak halal. Membayar zakat juga akan membuat harta semakin tumbuh dan berkembang. Zakat juga termasuk dalam rukun iman selain shalat, haji, dan puasa yang telah diatur secara rinci berdasarkan Al Quran dan Sunah. Zakat juga merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia di mana pun dia berada.

Zakat terdiri dari dua macam, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan seorang muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Sedangkan zakat maal adalah zakat hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak yang masing-masing jenisnya memiliki perhitungannya sendiri. Zakat dapat diberikan langsung kepada penerima zakat ataupun melalui lembaga penyalur zakat.

Di Indonesia biasanya zakat dikelola dan disalurkan oleh badan zakat dan lembaga zakat, baik itu milik pemerintah maupun pihak swasta. Sebut saja BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan BAZDA (Badan Amil Zakat Daerah) atau Dompet Dhuafa sebagai badan amil zakat milik swasta yang memfasilitasi si pemberi zakat (muzaki) dengan si penerima zakat (mustahiq). Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses penyaluran dan pendataan zakat.

Berdasarkan  ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu, untuk bisa menyalurkan sebagian hartanya bagi orang-orang yang membutuhkan melalui lembaga dan atau badan zakat guna menyejahterakan golongan mustahiq.
Ironi Muzaki
Potensi zakat masyarakat Indonesia sesungguhnya besar. Menurut data dari BAZNAS pada tahun 2012, potensi zakat nasional diproyeksikan dapat mencapai Rp.217,3 triliun per tahun. Hanya saja realisasi pengelolaan zakat yang tercatat mencapai Rp.1,7 triliun atau 0,8% dari proyeksi potensi. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, salah satu di antaranya adalah kurangnya rasa percaya muzaki kepada lembaga penyalur zakat yang belakangan ini notabenenya direfleksikan sebagai lembaga korup. Oleh karena itu para muzaki lebih memilih menyalurkan zakatnya secara langsung daripada melalui lembaga penyalur zakat.

Dari sinilah timbul beberapa permasalahan seperti orientasi muzaki yang cenderung terkesan ria karena merasa telah mendermakan hartanya secara langsung. Seperti yang terjadi di Pasuruan - Jawa timur, 2008 silam yang pada awalnya ada seorang yang ingin menyalurkan zakatnya justru malah menelan 21 korban karena tidak adanya koordinasi yang jelas dalam penyelengaraan kegiatan penyaluran zakat tersebut. Peristiwa ini merupakan raport merah dalam sejarah pengelolaan zakat di Indonesia.

Ternyata permasalahan tersebut bukan hanya terjadi di Pasuruan melainkan juga di beberapa daerah seperti di kediaman habib Ismet Al habsyi di Pasar Minggu pada tahun 2003 lalu yang menelan 4 korban tewas dan belasan lainnnya luka-luka. Serupa dengan itu, terjadi juga pembagian zakat yang menelan korban di kediaman Haji Muhammad bin Alwi di Gresik 2007 silam yang menewaskan satu orang dan belasan lainnya luka-luka karena terinjak-injak pada saat mengantri.

Stabilisasi Distribusi
Dari beberapa kasus di atas, tragedi penyaluran zakat yang menelan korban tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah: pertama, lalainya si muzaki dalam mengatur sistematika distribusi zakat yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Muzaki tidak menata dengan baik bagaimana prosedur pemberian zakat.

Kedua, muzaki tidak melakukan koordinasi dengan pihak keamanan guna mengawasi kegiatan pemberian zakat tersebut yang melibatkan ribuan orang. Terakhir, jika dilihat dari sisi lain, muzaki belum atau tidak percaya dengan lembaga penyalur zakat. Jika dibiarkan secara terus menerus dan tidak ada tindak lanjut dari pihak terkait, khususnya kementerian agama, distribusi zakat akan menjadi bom waktu.

Menurut hemat penulis, pendistribusian zakat di Indonesia belumlah dapat dikatakan berjalan dengan baik karena masih terdapat kekurangan di sana-sini. Mulai dari segi teknis, sosialisasi zakat, rekam jejak lembaga zakat itu sendiri dan lain sebagainya. Jika kita simak secara seksama, zakat yang disalurkan oleh para muzaki pada umumnya bersifat zakat konsumtif bukannya zakat produktif.

Pembagian zakat konsumtif ini akan menciptakan mental miskin dan rasa selalu ketergantungan bagi para mustahiq. Lain halnya jika zakat yang disalurkan adalah zakat produktif, yaitu zakat yang diberikan guna diberdayagunakan kembali menjadi sesuatu yang menghasilkan bahkan mengubah seorang mustahiq menjadi muzaki.

Penulis menghimbau kepada para calon pemberi zakat agar lebih menelaah sistematika dan tata aturan penyaluran zakat yang telah diatur oleh syariat islam yaitu melalui panitia zakat (amil), karena Al Quran dan Sunnah sudah jelas memberitahukan bagaimana seharusnya zakat itu didistribusikan. Kemudian para muzaki hendaknya mulai membangun kepercayaan kepada lembaga zakat sebagai jembatan antara muzaki dengan mustahiq.

Selanjutnya pemerintah khususnya kementrian dan pihak-pihak terkait harus mengupgrade titik-titik kekurangan yang dapat menimbulkan apatisme masyarakat dalam berzakat. Dan terakhir, para penerima mustahiq hendaknya mengubah pola pikirnya bahwa tidak selamanya mereka berada di posisi mustahiq akan tetapi dengan zakat yang diterimanya, mustahiq harus bisa mengelola zakat itu dengan baik agar bisa menjadi sesuatu yang menghasilkan yang pada akhirnya akan merubah posisi mustahiq menjadi muzaki.

Nurmalisa Nazarani, Mahasiswi semester 4, Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Membincang Zakat dan Distribusinya
Membincang Zakat dan Distribusinya
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2012/08/membincang-zakat-dan-distribusinya.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2012/08/membincang-zakat-dan-distribusinya.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago