Archive Pages Design$type=blogging

Fotografer Freelance, Alternatif Baru Atasi Nine to Five


UIN Jakarta, INSTITUT-Mengingat kestatisan pola kerja nine to five(mereka yang bekerjamulaipukul 09.00-17.00 WIB) yang melanda puluhan ribu pegawai kantoran saat ini,sejumlah orang memilih untuk menghindari keterikatan menjadi seorang pegawai.Terlebih saat mengingat upah yang didapat terkadang tak sebanding dengan jam kerja serta lelah yang terciptatiap harinya, banyak pekerja yang sontak beralih pada bidang lain, salah satunya menjadi seorang fotografer freelance.

“Menjadi seorang fotografer freelance merupakan sebuah alternatif mudah dan murah untuk keluar dari jerat rutinitas nine to five. Terlebih pada jaman digital saat ini, banyak alat yang dapat digunakan untuk menghasilkan karya foto,” ujar Edy Purnomo, seorang fotografer  freelance dalam forum Diskusi Fotografi bertema “Serba-serbi Fotografer Freelance” yang diselenggarakan Mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik Angkatan 2009 Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Selasa (26/6).

Edy menjelaskan, dulu telah berulang kali ia mencoba bergelut dalam dunia nine to five, namun hal itu nyatanya tidak membawa kemajuan untuk hidupnya. Kelincahannya dalam berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya pun menambah ketidaksetiaannya menjadi pegawai dan akhirnya memutuskan untuk menjadi fotografer freelance.

Ia mengatakan untuk menjadi seorang fotografer freelancesesungguhnya hanya diawali dengan pengenalan atas kemampuan diri. Menjadi seorang fotografer, bukan hanya  selalu menitikberatkan pada hal-hal yang terlihat indah dan bagus. Namun, lebih dari itu, fotografer harus memiliki sesuatu yang unik dan berbeda, agar foto yang dihasilkan tidak terlihat monoton dan terkesan sudah umum.

“Cobalah selami sisi lain dari sebuah peristiwa. Jangan sajikan apa yang telah umum disajikan oleh banyak orang. Sesungguhnya menjadi seorang fotografer merupakan hal yang sangat mudah, hanya dibutuhkan inisiatif, kemampuan untuk memberdayakan kamera, serta ide-ide kreatif,” tegas Edy.

Edy menambahkan, setelah mengenali kemampuan diri hal selanjutnya ialah  membuka diri untuk memperkenalkan karya yang telah kita hasilkan dalam berbagai bentuk, berupa, flyer, portofolio, atau bahkan website yang berisikan koleksi foto-foto yang telah dihasilkan.

Kemudian, seorang fotografer freelance juga sebaiknya sudah membidik sejumlah media lokal dan internasional, agensi foto, ataupun kantor beritasebagai tempat  memasarkankarya bidikan. Edy menurturkan, hal ini penting agar seseorang dapat mengklasifikasikan foto yang mereka ingin ciptakan, namun tetap pada tataran foto jurnalistik.

“Terdapat banyak media yang dapat kita salurkan foto kepadanya, oleh karena itu perkayalah hunting foto karena menjadi fotografer utamanya yang akan merambah dunia freelance, hal terpenting adalah berproduksi,” tandas Edy yang juga pendiri Equator Images, sebuah agensi pemasok foto untuk berbagai media.

Arga Sumantri, selaku Ketua Pelaksana acara ini, menuturkan, acara ini merupakan salah satu rangakaian acara dari Galeri Foto Angkatan 2009 Konsentrasi Jurnalistik (GALANG IX). Bersanding dengan pameran foto sebagai kegiatan utama,  acara tahunan ini diselenggarakan seluruh mahasiswa Konsentrasi Jurnalistik angkatan 2009 dalam rangka pemenuhan tugas akhir mata kuliah Jurnalistik Foto.

Fotografer freelance merupakan sebuah bagian yang tak terpisahkan dariseseorangyang begelut di dunia fotografi. Selain menjadi usulan dosen pembimbing acara, panitia juga memilih tema ini didasari  keinginan kami untuk lebih mengeksplor profesi yang menjanjikan ini,” ujar Arga.

Nisa Chaerani, mahasiswa semester 4, Konsentrasi Jurnalistik, FIDKOM, selaku peserta Diskusi Fotografi ini, menuturkan, acara ini menarik serta membuka wawasan tentang bukanlah sebuah keharusan dalam menjadi seorang fotografer untuk terikat pada sebuah media. Namun, menurutnya cukup disayangkan penyajian materi yang hanya berasal dari seorang narasumber fotografer freelance.

“Kita tidak bisa menangkap pelajaran hanya dari 1 orang. Seharusnya ada dua atau tiga pemateri, sehingga kita dapat menangkap pelajaranmelalui banyak orang dan tidak terpaku pada sebuah pengalaman saja. Selain itu, sebaiknya terdapat penyuguhan teori fotografi dalam dunia freelance, namun pada kenyataannya dalam diskusi ini pemateri lebih menyajikan pengalamannya dalam bidang bidik kamera itu,” ujarnya. (Adea Fitriana)

COMMENTS

Name

cerpen Citizen Journalism english edition Kampusiana Komunitas Lapsus Laput majalah newsletter opini Pemira perjalanan puisi Resensi Buku Resensi Film Seni dan Budaya Sosok survei tabloid tustel wawancara
false
ltr
item
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA: Fotografer Freelance, Alternatif Baru Atasi Nine to Five
Fotografer Freelance, Alternatif Baru Atasi Nine to Five
http://4.bp.blogspot.com/-86ubLYs5m5U/UPK3Yeffh5I/AAAAAAAAAEo/AnFB3VN2DT8/s320/edy+purnomo+foto.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-86ubLYs5m5U/UPK3Yeffh5I/AAAAAAAAAEo/AnFB3VN2DT8/s72-c/edy+purnomo+foto.jpg
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
http://www.lpminstitut.com/2012/06/fotografer-freelance-alternatif-baru.html
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/
http://www.lpminstitut.com/2012/06/fotografer-freelance-alternatif-baru.html
true
8610555321436781924
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago